CONTOH DANAU
DANAU Sebagai sumber air paling praktis, danau
sudah menyediakannya melalui terkumpulnya air secara alami melalui aliran
permukaan yang masuk ke danau, aliran sungai-sungai yang menuju ke danau dan
melalui aliran di bawah tanah yang secara alami mengisi cekungan dimuka bumi
ini. Bentuk fisik danaupun memberikan daya tarik sebagai tempat membuang yang
praktis.
Jika semua dibiarkan demikian, maka akan
mengakibatkan danau tak akan bertahan lama berada di muka bumi. Saat ini
terlihat ekosistem danau tidak dikelola sebagaimana mestinya. Sebaliknya, untuk
memenuhi kepentingan manusia, lingkungan sekitar danau diubah untuk dicocokkan
dengan cara hidup dan cara bermukim manusia, atau bahkan kawasan ini sering
dirombak untuk menampung berbagai bentuk kegiatan manusia seperti permukiman,
prasarana jalan, saluran limbah rumah tangga, tanah pertanian, rekreasi dan
sebagainya (Connell & Miller,1995).
Sementara, kondisi ekosistem danau tidak lepas
dari pengaruh kondisi sungai-sungai yang mengalir masuk (inlet) bagi danau.
Danau merupakan bagian hulu dari DAS. Dari hasil penelitian, daerah aliran
sungai (DAS) telah mengalami degradasi lingkungan, akibat kegiatan-kegiatan
pembangunan pada sektor pertanian, kehutanan, perikanan, pariwisata dan
industri di DAS Maninjau. Hal ini mengakibatkan perubahan penggunaan lahan yang
selain memberikan manfaat juga menimbulkan dampak negatif terhadap fungsi
ekologi, ekonomi, dan estetika ekosistem danau.
Sehingga seringkali terjadi pemanfaatan danau
dan konservasi danau yang tidak berimbang, dimana pemanfaatan danau lebih
mendominasi sumberdaya alam danau dan kawasan daerah aliran sungai (watershed).
Hal ini mengakibatkan danau berada pada kondisi suksesi, yaitu berubah dari
ekosistem perairan ke bentuk ekosistem daratan. Pendangkalan akibat erosi,
eutrofikasi merupakan penyebab suksesi suatu perairan danau. Hilangnya
ekosistem danau mengakibatkan kekurangan cadangan air tanah pada suatu
kawasan/wilayah yang bakal mengancam ketersediaan air bersih bagi kehidupan
manusia dan makhluk hidup lainnya. Akibatnya, keberlanjutan suatu lingkungan
hidup yang didalamnya terdapat manusia dan alam terancam tak dapat berlanjut.
Oleh karena itu, diperlukan suatu kajian menyeluruh mengenai pola dan struktur
pemanfaatan ruang di kawasan danau ini, yang kemudian dimanifestasikan menjadi
peraturan daerah ke dalam bentuk Rencana Tata Ruang Kawasan Danau.
Umumnya, danau memiliki outlet sungai, di
sekitarnya terdapat permukiman penduduk. Penggunaan lahan di kawasan danau
tersebut biasanya terbagi ke dalam sembilan macam tipe penggunaan : (1)
Pemukiman; (2) Pertanian lahan kering; (3) Kebun kelapa; (4) Rumput rawa dan
sagu; (5) Hutan; (6) Sawah; (7) Perikanan danau (8) Pembangkit Listrik Tenaga
Air; (9) Sarana dan prasarana wisata, dan penggunaan lain-lain. Dengan kondisi
tersebut, umumnya permasalahan
yang timbul adalah:
1. Tidak jelasnya batas tata
ruang pemanfaatan di kawasan danau yang mengakibatkan kerusakan hutan,
pendangkalan danau secara terus menerus
2. Tandusnya gunung-gunung di
sekitar danau sebagai daerah tangkapan air mengakibatkan debit air danau
menurun di musim kemarau dan banjir di musim hutan.
3. Budidaya perairan danau
dengan teknik karamba/floating net di
danau yang tidak teratur mengakibatkan pencemaran sampah dan meningkatnya
proses penyuburan rumput danau (arakan) yang menyebabkan tekanan ekologis
terhadap habitat beberapa ikan dan biota danau endemik lainnya, yang terus
berlangsung secara intensif.
4. Orientasi komersil masyarakat
lokal di kawasan danau terhadap pertanian mengakibatkan monokultur yang tidak
ramah lingkungan
5.
Tekanan ekonomi secara umum dan kurangnya pemahaman
masyarakat lokal terhadap pelestarian nilai dan potensi sumberdaya alamnya
sejak lama mengakibatkan pengurasan sumberdaya alam dan menurunnya populasi
keanekaragaman hayati endemik di kawasan sekitar danau
6. Pengembangan daerah
pemukiman, pariwisata, dan pembangunan sarana publik di kawasan sekitar danau
yang tidak memperhatikan aspek lingkungan mengakibatkan perusakan ekosistem
daerah aliran sungai (DAS) secara tidak langsung
7. Menurunnya debit air danau
mengancam suplai air untuk pembangkit listril tenaga air (PLTA), persawahan
masyarakat dan PDAM setempat.
Selain
itu, danau juga dapat dilihat sebagai kawasan yang memiliki potensi alam
sumberdaya hayati ikan tawar dan merupakan daya tarik tersendiri bagi industri
perikanan dan pariwisata. Tetapi sayangnya, karakteristik masyarakat setempat
dalam memanfaatkan potensi alamnya masih sangat sederhana dalam berbagai aspek
pengelolaannya. Permasalahan
umum yang sering timbul adalah:
1. Pengembangan sarana wisata
yang tidak terkendali mengakibatkan masyarakat lokal kehilangan akses terhadap
tanah dan sumber daya alam.
2. Adanya perbedaan kepentingan
antara Pemerintah Daerah dan Dinas Kehutanan dalam pengelolaan kawasan sekitar
danau.
3. Pola penangkapan ikan yang
merusak lingkungan oleh nelayan luar kawasan danau yang merugikan nelayan
setempat
4. Meningkatnya pencemaran
sampah padat dari sungai-sungai yang bermuara ke danau dan kegiatan sekitar
danau serta kegiatan wisata yang mengurangi nilai estetika dan meningkatnya
kerusakan ekosistem
5. Pengelolaan sumberdaya alam
yang tidak teratur karena keterdesakan permasalahan di atas dan tekanan ekonomi
secara umum yang dihadapi masyarakat lokal serta kurangnya pemahaman terhadap
pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan sehingga menimbulkan
tindakan-tindakan yang merusak ekosistem
Berdasarkan
hasil penelitian (LPPM Univ. Bung Hatta, Bambang Istijono) dan beberapa opini
tokoh masyarakat dan pejabat pemerintahan yang dikutip dari Harian Kompas dan
Suara Karya, April 2002, maka dapat digambarkan beberapa hipotesi persoalan
kawasan Danau Maninjau adalah sebagai berikut:
Menurunnya kualitas lingkungan Danau Maninjau
karena tercemarnya air danau selama 5 tahun terakhir, yang disebabkan oleh
blooming fitoplankton, tingginya limbah masyarakat di sekitar danau, dan/atau
dibendungnya sungai (batang) antokan sebagai outlet aliran air menyebabkan:
1) Konsumsi air masyarakat di
sekitar danau menjadi tidak sehat,
2) Menurunnya sumber protein
dari komoditas ikan yang diternak di Danau Maninjau,
3) Merosotnya intensitas
kunjungan wisatawan untuk menginap,
4) Terganggunya sistem
pengambilan air oleh PLTA.
Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa persoalan air Danau Maninjau disebabkan oleh
faktor manusia (human error) yang
memanfaatkan kawasan di sekitar danau tersebut tanpa mempertimbangkan faktor
lingkungan. Adanya dampak negatif pembangunan PLTA yang menyumbat aliran air
yang membawa endapan/limbah menunjukkan lemahnya kajian secara komprehensif
terhadap pemanfaatan ruang. Oleh karena itu, penting suatu kajian untuk
mengatur alokasi pemanfaatan ruang sekarang dan akan datang yang lebih
mempertimbangkan aspek lingkungan.
A.
Penentuan
Fungsi Kawasan Danau
Tahapan ini merupakan awal dari penyusunan Rencana
Tata Ruang Kawasan Danau Maninjau. Fungsi dan peran Kawasan Danau Maninjau
penting untuk ditetapkan karena mempertimbangkan keberadaannya yang tidak hanya
bersifat lokal, tetapi juga sangat berkait dengan kegiatan yang bersifat
regional, nasional, bahkan internasional. Oleh karena itu, ada 2 (dua) jenis
fungsi Kawasan Danau Maninjau yang perlu dianalisis, yaitu :
1.
Fungsi Danau, yang dapat
dikaji dari sudut pandang ekologi, sumber air bersih, manfaatnya bagi penduduk
sekitar, dan lain-lain
2.
Fungsi Kawasan, yang dikaji
dari kontribusi kawasan danau tersebut terhadap Kabupaten Agam dan Propinsi
Sumatera Barat.
Analisis dari kedua fungsi ini akan menghasilkan informasi
tentang bagaimana seharusnya suatu kawasan danau berfungsi dan jenis kegiatan
yang harus dialokasikan di kawasan tersebut, mengingat pengaruh Danau Maninjau
tidak hanya dibatasi oleh faktor geografisnya saja.
Untuk menghasilkan ketetapan fungsi yang ingin
dijalankan, dilakukan kajian teknis terhadap fungsi danau, selain melakukan
pendekatan konsensus kepada para stakeholder yang terkait dengan kawasan
Danau Maninjau, tidak hanya masyarakat daerah Kabupaten Agam, tetapi juga aktor
pemerintah, swasta di tingkat propinsi dan nasional.
Pendekatan konsesus ini merupakan media yang menjembatani
antara proses pendekatan ilmiah yang dilakukan dalam penyusunan tata ruang dan
perwujudan konsep tata ruang yang partisipatif, forum diskusi (konsultasi)
dapat dijadikan salah satu metoda yang tepat.
DAFTAR PUSTAKA
Afrianti, 2000. Kamus Istilah Perikanan. Kanisius. Yogyakarta.
Afrianto, L. dan Liviawati, 1994. Teknik Pembuatan Tambak Udang. Kanisius. Yogyakarta.
Alaerts, G. dan S. Santika, 1987. Metode Penelitian Air. Usaha Nasional. Surabaya.
Alfan, M.S., 1995. Evaluasi Kualitas Fisika Kimia Air, sungai Ciliwung di Wilayah Kota Administrasi Depok bagi Kepentingan Perikanan. Skripsi. IPB. Bogor.
Anggoro, S., 1983. Permasalahan Kesuburan Pertanian Bagi Peningkatan Produksi Ikan di Tambak. Paper M.A. Kolokium. Jurusan Ilmu Perairan. Fakultas Pasca Sarjana. IPB. Bogor.
Basyarie, A., 1995. Pengamatan Kualitas Perairan di kawasan Pemeliharaan Ikan Ekor Kuning (Yellow Tail) dalam Keramba Jaring Apung. Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian. Bojonegoro. Serang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar