PENGARUH KERAMBA
JARING APUNG TERHADAP KUALITAS LINGKUNGAN DANAU
Di beberapa danau/waduk, para
pembudidaya ikan memanfaatkannya sebagai lahan budidaya ikan yang menggunakan
sistem keramba atau Keramba Jaring Apung (KJA). Sifat perairan
danau/waduk yang masih dianggap sebagai common property (milik bersama) dan
open access (sifat terbuka) menyebabkan pertumbuhan KJA di berbagai tempat
berkembang sangat pesat dan cenderung tidak terkontrol dan tak terkendali. Hal
tersebut didukung dengan budidaya ikan berbasis pakan buatan (pelet) dimana
aktivitas budidayanya menggunakan pemberian pakan hampir 70% dari proses
produksinya.
Budidaya ikan berbasis pelet
(budidaya intensif) merupakan kegiatan usaha yang efisien secara mikro tetapi
inefisien secara makro, terutama apabila ditinjau dari segi dampaknya terhadap
lingkungan. Pertumbuhan jumlah keramba yang terus meningkat yang berarti terus
meningkatnya jumlah ikan yang dipelihara akan menghasilkan sejumlah limbah
organik yang besar akibat pemberian pakan yang tidak efektif dan efisien.
Pada saat jumlahnya melampaui batas tertentu dapat mengakibatkan proses
sedimentasi yang tiggi berupa penumpukan sisa pakan di dasar perairan, limbah
tersebut akan menyebabkan penurunan kualitas perairan (pengurangan pasokan
oksigen dan pencemaran air danau/waduk) yang pada akhirnya mempengaruhi hewan
yang dipelihara. Sisa pakan dan metabolisme dari aktifitas pemeliharaan ikan
dalam KJA serta limbah domestik yang berasal dari kegiatan pertanian maupun
dari limbah rumah tangga menjadi penyebab utama menurunnya fungsi ekosistem
danau yang berakhir pada terjadinya pencemaran danau, mulai dari eutrofikasi
yang menyebabkan ledakan (blooming) fitoplankton dan gulma air seperti enceng
gondok (Eichornia crassipes), upwelling dan lain-lain yang yang dapat
mengakibatkan organisme perairan (terutama ikan-ikan budidaya) serta diakhiri
dengan makin menebalnya lapisan anaerobik di badan air danau. Melihat akibat
yang ditimbulkan dari pemberian pakan ikan budidaya ikan sistem KJA terhadap
kualitas perairan di danau/waduk maka penulis tertarik akan hal tersebut.
Adapun tujuan penulisan ini adalah untuk mengetahui pengaruh pakan ikan
terhadap kualitas perairan danau/waduk pada budidaya ikan sistem KJA.
Pertumbuhan jumlah KJA yang
dibudidayakan di danau/waduk secara intensif yang terus meningkat yang berarti
terus meningkatnya jumlah ikan yang dipelihara akan menghasilkan limbah organik
(kotoran ikan dan sisa pakan yang tidak termakan) yang akan merangsang
produktivitas perairan dan mempengaruhi karakteristik biotik dan abiotik
perairan (Krismono, 1992). Budidaya ikan dalam KJA secara intensif merupakan
usaha perikanan yang dapat dikembangkan dengan pemberian pakan komersil
(pelet). Semakin banyak KJA yang beroperasi akan semakin banyak limbah yang
masuk ke perairan. Limbah tersebut berasal dari pemberian pakan yang berlebihan
yang akan menimbulkan dampak lanjut ke perairan berupa kotoran dan sisa pakan.
Kegiatan budidaya ikan sistem KJA
yang dikelola secara intensif membawa konsekuensi penggunaan pakan yang besar
yang bagaimanapun efisiensinya rasio pemberian pakan, tidak seluruh pakan yang
diberikan akan termanfaatkan oleh ikan-ikan peliharaan dan akan jatuh ke dasar
perairan. Pakan ikan merupakan penyumbang bahan organik tertinggi di
danau/waduk (80%) dalam menghasilkan dampak lingkungan (Garno, 2000). Jumlah
pakan yang tidak dikonsumsi atau terbuang di dasar perairan oleh ikan sekitar
20–50%. Berbagai pendapat mengenai jumlah pakan yang terurai di danau /waduk:
1. Lukman & Hidayat (2002) bahwa
sisa pakan dalam bentuk kotoran ikan yang jatuh ke perairan sekitar 50% dari
pakan yang diberikan.
2. Krismono (1993) dalam Krismono dan Wahyudi (2002), pemberian pakan dengan
sistem pompa memberi sumbangan berupa pakan yang terbuang sekitar 20 ? 30%
untuk setiap unit KJA dengan ukuran 7 x 7 x 3 m3.
3. Philips et al., (1993), Boyd (1999), Mc Donad et al., (1996), 30% dari
jumlah pakan yang diberikan tertinggal sebagai pakan yang tidak dikonsumsi dan
25-30% dari pakan yang dikonsumsi akan diekskresikan.
4. Sutardjo (2000), limbah pakan yang terbuang ke perairan yang diperkirakan
sekitar 30–40%.
5. Azwar dkk (2004), jumlah pakan pada sistem KJA yang diberikan per hari
mencapai 3,3% bobot ikan dan dari jumlah pakan yang diberikan tersebut ada
bagian yang tidak dikonsumsi mencapai 20–25% dari pakan yang dikonsumsi
tersebut akan diekskresikan ke lingkungan.
6. Rachmansyah (2004), pakan yang diberikan pada ikan hanya 70% yang dimakan
oleh ikan dan sisanya sebanyak 30% akan lepas ke badan perairan danau sebagai
bahan pencemar atau limbah.
Umumnya di danau/waduk, pemberian
pakan adalah dengan sistem pompa yaitu pemberian pakan sebanyak-banyaknya
(Kartamihardja, 1995 dalam Nastiti et al., 2001) akibatnya terjadi pemberian
pakan berlebih (over feeding). Pemberian pakan yang dilakukan secara adbilitum
(terus menerus hingga ikan betul-betul kenyang) menyebabkan banyak pakan yang
terbuang (inefisiensi pakan) dan terakumulasi di dasar perairan. Sisa pakan
yang tidak termakan dan ekskresi yang terbuang pada akhirnya akan diuraikan
olej jasad-jasad pengurai yang memerlukan oksigen. Dalam kondisi anaerob
penguraian akan berjalan dengan baik, namun dari proses anaerobik ini
dihasilkan berbagai gas beracun yang dapat mencemari perairan danau/waduk. Disamping
hal tersebut, sisa pakan dan buangan padat ikan akan terurai melalui proses
dekomposisi membentuk senyawa organik dan anorganik, beberapa diantaranya
senyawa nitrogen (NH3, NO2, NO3) dan fosfor (PO4) (Juaningsih, 1997).
Senyawa-senyawa nitrogen (N) dan fosfor (P) diperlukan oleh fitoplankton dan
tumbuhan air lainnya. Di perairan fitoplankton merupakan produsen primer yang
mempengaruhi kelimpahan organisme. Sisa-sisa pakan dan kotoran ikan dari KJA
berperan sebagai pupuk yang dapat menyuburkan perairan danau/waduk. Apabila
dalam keadaan hipertropik berakibat pertumbuhan yang tidak terkendali
(blooming) plankton jenis tertentu.
Kotoran ikan dapat menimbulkan
deposisi yang meningkat di dasar perairan, selanjutnya mengakibatkan penurunan
kadar oksigen di bagian dasar. Menurut Lukman (2006) menjelaskan bahwa pasokan
oksigen dalam pengelolaan KJA adalah untuk respirasi biota, pembusukan feses
ikan dan pembusukan sisa pakan ikan. Menurutnya untuk setiap gram organik
(limbah budidaya ikan) diperlukan 1,42 gram oksigen. Konsentrasi oksigen yang
tersedia berpengaruh secara langsung pada kehidupan akuatik khususnya respirasi
aerobik, pertumbuhan dan reproduksi. Konsentrasi oksigen terlarut di perairan
juga menentukan kapasitas perairan untuk menerima beban bahan organik tanpa
menyebabkan gangguan atau mematikan organisme hidup (Umaly and Cuvin, 1988).
Sumber oksigen di perairan berasal dari: difusi atmosfir, fotosintesis,angin,
dan susupan oksigen terlarut. Sedangkan penggunaan oksigen terlarut di lapisan
perairan (Simarmata, 2007):
1. Lapisan permukaan perairan
terdapat.
(a). proses pembentukan biomassa dalam karamba dan
kotoran (ekskresi & feses) serta sisa pakan;
(b). proses pembentukan, melalui
fotosintesa, memanfaatkan unsur hara menjadi biomassa fitopankton+oksigen.
2. Lapisan tengah terjadi proses
mineralisasi sisa pakan/ kotoran ; membebaskan unsur hara. N, P, K, Si dengan
memanfaatkan oksigen (DO), akibatnya cadangan DO berkurang, diindikasikan
dengan adanya ODR (Oxygen Depletion Rate) atau HODR (Hypolimnion Oxygen
Depletion Rate).
3. Lapisan bawah atau dasar perairan, menampung akumulasi sisa pakan/kotoran
ikan serta produk dekomposisi sisa pakan seperti: CO2, H2S, NH3, CH4 pada
kondisi anaerob. Peningkatan unsur hara (N, P, Si) tersebut potensial menunjang
perkembangan fitoplankton (bloom), yang di dominasi oleh kelompok cyanophyceae
Mycrocytis sp. Perkembangan fitoplankton tersebut akhirnya mengganggu
keseimbangan DO di perairan.
Bahan organik dan nutrien yang
berasal dari luar dan dari kegiatan budidaya KJA akan mempengaruhi ketersediaan
oksigen dan daya dukung perairan. Daya dukung perairan yaitu kemampuan perairan
dalam menerima, mengencerkan dan mengasimilasi beban tanpa menyebabkan
perubahan kualitas air atau pencemaran. Cadangan oksigen di perairan danau/waduk
sangat terbatas. Apabila beban melampaui ketersediaan cadangan oksigen, akan
terjadi deplesi, lalu defisit dan menyebabkan pencemaran. Pada akhirnya
pemberian pakan ikan yang berlebihan pada buddiaya ikan sistem KJA menjadi
penyebab utama menurunnya fungsi ekosistem danau yang berakhir pada terjadinya
pencemaran danau, mulai dari eutrofikasi yang menyebabkan ledakan (blooming)
fitoplankton dan gulma air seperti enceng gondok (Eichornia crassipes),
upwelling dan lain-lain yang yang dapat mengakibatkan kematian pada organisme
perairan (terutama ikan-ikan budidaya) serta diakhiri dengan makin menebalnya
lapisan anaerobik di badan air danau.
Daftar
Pustaka
Azwar, ZI., Ningrum, S dan Ongko, S.
2004. Manajemen Pakan Usaha Budidaya Ikan di Karamba Jaring Apung. Dalam
Pengembangan Budidaya Perikanan di Perairan Waduk. Pusat Riset Budidaya
Perikanan. Jakarta.
Boyd, C. E. 1999. Management of Shrimp Ponds to Reduce the Eutrophication Potential of Effluents. The Advocate. December 1999 : 12-13.
Boyd, C. E. 1999. Management of Shrimp Ponds to Reduce the Eutrophication Potential of Effluents. The Advocate. December 1999 : 12-13.
Juaningsih, N. 1997. Eutrofikasi di
Waduk Saguling Jawa Barat. Laporan Penelitian Balai Penelitian Air Tawar
Purwakarta Jawa Barat. Hal 40 – 44.
Krismono. 1992. Penelitian Potensi
Sumberdaya Perairan Waduk Wadaslintang, Mrica, Karangates dan Waduk Selorejo
untuk Budidaya Ikan dalam Keramba Jaring Apung. Buletin Penelitian Perikanan
Darat. Vol. II No. 2 Juni. 20 hal.
Lukman dan Hidayat. 2002. Pembebanan
dan Distribusi Organik di Waduk Cirata. Jurnal Teknologi Lingkungan. P3TL-BPPT.
Vol. 3 (2): 129 – 135.
Mc. Donald, M.E, Tikkanen, C. A,
Axler, R. P , Larsen, C. P dan Host, G. 1996. Fish Simulation Culture Modekl
(FIS-C) : A Bioenergetics Based Model for Aquacultural Wasteload Application.
Aquacultural Engineering. 15 (4): 243 – 259.
Nastiti, A.S., Krismono, dan E.S. Kartamiharja. 2001. Dampak Budidaya Ikan dalam KJA terhadap Peningkatan Unsur N dan P di Perairan Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 7 (2): 22-30.
Nastiti, A.S., Krismono, dan E.S. Kartamiharja. 2001. Dampak Budidaya Ikan dalam KJA terhadap Peningkatan Unsur N dan P di Perairan Waduk Saguling, Cirata, dan Jatiluhur. Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. 7 (2): 22-30.
terima kasih min cukup membantu jurnal ini
BalasHapus