Selasa, 23 September 2014

PR0P0SAL RUMPUT LAUT



I. PENDAHULUAN



A.    Latar Belakang
Rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan pada kegiatan revitalisasi perikanan yang mempunyai pasar prospektif. Permintaan dunia yang cukup tinggi menyebabkan hasil produksi yang berasal dari alam tidak mencukupi, sehingga harus dilakukan upaya budidaya. Saat ini, potensi lahan untuk budidaya rumput laut Indonesia sekitar 1,2 juta ha, namun baru termanfaatkan sebanyak 26.700 ha (2,2%) dengan total produksi nasional tahun 2004 berkisar 410.570 ton basah. Rumput Laut (sea weed) adalah salah satu komoditas perikanan yang dapat dipergunakan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi rakyat.
Budidaya rumput laut tidak memerlukan teknologi yang tinggi, investasi cenderung rendah, menyerap tenaga kerja yang cukup banyak serta menghasilkan keuntungan yang relatif besar. Pengembangan usaha tersebut diharapkan dapat mengurangi angka pengangguran (pro job), meningkatkan pendapatan masyarakat (pro growth) serta pada gilirannya nanti dapat menekan angka kemiskinan (pro poor).
Menilik dari potensi tersebut, maka tidaklah berlebihan jika dilakukan upaya peningkatan produksi pada komoditas ini di Wilayah Maluku melalui kegiatan revitalisasi. Provinsi Maluku sendiri memiliki perairan laut yang memberikan kehidupan bagi masyarakat di sektor perikanan, perhubungan dan parawisata. Potensi wilayah laut Maluku memiliki sumberdaya alam yang belum dikembangkan secara optimal sampai saat ini. Sebagai salah satu komoditas unggulan, rumput laut mempunyai prospek pasar yang sangat besar dan menjanjikan serta baik untuk dikonsumsi lokal (dalam negeri) maupun luar negeri atau ekspor.

Di perairan laut Maluku ditemukan sekitar 75 jenis alga dan tersebar di perairan sekitar pulau Aru, Tanimbar, pulau-pulau terselatan, Seram dan Taliabu Barat (Nontji, 1987). Jenis rumput laut yang banyak dijumpai karena bernilai ekonomis tinggi dan dikembangkan di masyarakat antara lain Euchemia cotoni dan Glacilaria spp.
Walaupun prospek bisnis rumput laut begitu cerah, tetapi dalam upaya pengembangannya masih banyak kendala yang dihadapi. Di bidang budidaya misalnya, ketersediaan bibit yang berkualitas masih jarang dilakukan, teknis budidaya, pengolahan pasca panen dan pemasarannya juga masih terdapat kendala. Telah diketahui bahwa untuk mencapai suatu produksi yang maksimal di dalam kegiatan budidaya rumput laut, maka diperlukan beberapa faktor pendukung, diantaranya pemakaian jenis yang bermutu, teknik budidaya yang intensif, pascapanen yang tepat dan kelancaran hasil produksi. Selain itu kunci suksesnya pengembangan rumput laut di Provinsi Maluku yaitu perlu adanya kesamaan persepsi, komitmen dan sinergi program di antara pihak-pihak yang terlibat seperti : Pemda, investor, petani, perbankan dan pihak terkait lainnya.
Dengan demikian, pengembangan rumput laut di daerah ini akan dapat dilakukan secara terencana dan berkesinambungan sehingga pada gilirannya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan, meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta mengurangi kerusakan lingkungan darat terutama akibat kegiatan penggalian tambang. Permasalahan inilah yang menjadi dasar bagi kami untuk melakukan usaha budidaya Rumput Laut sehingga dapat menghasilkan produksi yang maksimal. Untuk itu, dalam rangka menunjang pengembangan usaha budidaya rumput laut ini, maka kami telah menyusun proposal bagi pihak-pihak terkait sebagai acuan untuk mempersiapkan dan mempertimbangkan kelayakan pembiayaan dan bantuan..



B.     Tujuan
Secara umum, tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah memberikan informasi kepada pemberi dana untuk dapat memberikan bantuan dalam melakukan kajian terhadap pengembangan kegiatan budidaya Rumput Laut di Maluku serta membuat desain perencanaan dan pengembangan yang memuat sejumlah strategi. Perencanaan tersebut dapat dijadikan sebagai acuan pelaksanaan bagi semua stakeholders maupun para pembudidaya yang lain yang terkait dalam pengembangan produksi dan pengolahan rumput laut.
Secara khusus, tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah sebagai berikut :
  • Peningkatan penyerapan tenaga kerja, khususnya di daerah pesisir melalui gerakan budidaya rumput laut.
  • Pengurangan angka kemiskinan terutama di daerah pesisir melalui peningkatan kesejahteraan masyarakat pembudidaya rumput laut.
  • Peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya di Maluku melalui peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
















II. TINJAUAN PUSTAKA


Berdasarkan Aspek ekonomis, rumput laut merupakan komoditas yang potensial untuk dikembangkan mengingat nilai gizi yang dikandungnya. Selain itu, rumput laut dapat dijadikan sebagai bahan makanan seperti agar-agar, sayuran, kue dan menghasilkan bahan algin, karaginan dan fluseran yang digunakan dalam industri farmasi, kosmetik, tekstil, dan lain sebagainya.
Dari sudut pandang lain, budidaya rumput laut sangat menguntungkan karena dalam proses budidayanya tidak banyak menuntut tingkat keterampilan tinggi dan modal yang besar, sehingga dapat dilakukan oleh semua anggota keluarga nelayan termasuk ibu rumah tangga dan anak-anak. Selain itu masa panen atau produksinya relatif singkat jika dibandingkan dengan budidaya laut yang lain misalnya bandeng, udang dan kerang. Pangsa pasar rumput laut juga sangat luas baik dalam ataupun luar negeri. Bahkan untuk tingkat konsumsi (pasar) taraf lokal pun para pembudidaya masih kualahan untuk mencukupinya, belum lagi ditambah permintaan luar negeri yang kian hari semakin meningkat, bahkan bisa dikatakan tidak terbatas.
Ditinjau dari sisi lahan, usaha budidaya rumput laut tidak banyak kendala. Budidaya dapat dilakukan di hampir seluruh perairan laut nusantara, namun tergantung pada jenis dan metode budidayanya serta jenis rumput laut yang akan dibudidayakan.
Dari sisi penerapan teknologi, budidaya rumput laut juga jauh lebih mudah, efisien serta ekonomis dibandingkan teknologi yang digunakan dalam budidaya produk kelautan lainnya.
Dengan adanya aktifitas budidaya tentunya keuntungan yang bisa didapatkan diantaranya; berkurangnya jumlah pengangguran, meningkatnya pendapatan masyarakat, bertambahnya pendapatan asli daerah (PAD), persaingan usaha semakin ketat sehingga roda perekonomian akan terus berjalan dan terciptanya iklim usaha yang kondusif dan pada akhirnya akan tercipta kesejahteraan hidup masyarakat.
Aspek Sosial, perkembangan usaha budidaya rumput laut jika dilakukan di Maluku akan memberikan keuntungan bagi kehidupan masyarakat disekitar lokasi budidaya. Keuntungan yang diperoleh diantaranya adalah kesempatan kerja yang tersedia dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dukungan dari masyarakat sekitar dan nelayan yang beroperasi di perairan sekitar lokasi budidaya sangat diperlukan. Dengan adanya usaha budidaya rumput laut ini dan juga tersedianya potensi pasar yang luas diharapkan mampu menumbuhkan semangat kerja dan semangat berwirausaha masyarakat setempat.
Aspek ekologis, komoditas rumput laut memberikan banyak manfaat terhadap lingkungan sekitarnya antara lain adalah dapat mengkonservasi lahan pesisir terhadap berbagai aktivitas penangkapan yang tidak berwawasan lingkungan, seperti penggunaan racun/bom untuk penangkapan ikan. Rumput laut juga merupakan salah satu bagian penting dari ekosistem pesisir, yang secara ekologis memiliki peranan dan fungsi ekologis yang sama dengan ekosistem pesisir lainnya seperti; mangrove, lamun dan karang. Selain untuk mendapatkan keuntungan secara ekonimis, diharapkan usaha budidaya ini juga merupakan salah satu cara untuk melestarikan ekosistem rumput laut itu sendiri dan juga turut serta dalam upaya mengembangkannya yaitu melalui pemanfaatan kecanggihan ilmu pengetahuan dan teknologi misalnya dengan teknik kloning dan sistem kultur.
Aspek biologis, rumput laut memiliki klorofil yang berperan dalam proses fotosintesis di perairan. Sehingga tumbuhan ini memegang peranan sebagai produsen primer penghasil bahan organik dan oksigen di lingkungan perairan.
Aspek dampak lingkungan, sebagaimana biasanya, budidaya pasti mensyaratkan lokasi yang bebas dari polusi dan pencemaran air. Selama masa pemeliharaan sampai dengan masa panen, rumput laut tidak diberikan pakan, akan tetapi rumput laut mendapatkan makanan dan nutrisi dari yang tersedia di perairan laut. Dengan demikian budidaya rumput laut ini tidak mencemari dan merusak lingkungan di sekitar.



A.    Jenis Biota
Jenis biota yang sering dibudidayakan adalah rumput laut yang bernilai ekonomis tinggi antara lain Eucheuma sp., Gracilaria sp. dam Gelidium sp. Namun, rumput laut yang akan diusahakan dalam usaha budidaya ini adalah Eucheuma sp. Eucheuma sp memiliki berbagai bentuk, tekstur dan variasi warna thalus. Rumpun terbentuk dalam berbagai jenis percabangan. Jenis Eucheuma sp termasuk dalam kelas Rhodophyceae, ordo Gigartinales, Famili Solieriaceae, mempunyai thalus yang silindris, berduri kecil-kecil dan menutupi thalus. Percabangan tidak teratur sehingga merupakan lingkaran, ujungnya runcing berwarna coklat ungu atau hijau kuning.
Jenis ini hidup di daerah pasang surut dengan kedalaman air antara 30 – 50 cm pada waktu surut terendah. Cara hidupnya dengan menempelkan diri pada substrat. Rumput Laut mendapatkan makanan dari nutrisi yang terkandung dalam air. Tumbuh dengan baik pada daerah yang mempunyai pergerakan air serta sinar matahari yang cukup untuk proses fotosintesis. Gerakan air, selain berfungsi untuk menyuplai zat hara, juga membantu memudahkan rumput laut menyerap zat hara, membersihkan kotoran yang ada, dan melangsungkan pertukaran CO2 dengan O2. Gerakan air mengalir (arus) yang baik untuk pertumbuhan rumput laut antara 20 – 40 cm/detik dan gelombang/ombak tidak lebih dari 30 cm. Bila arus air lebih cepat atau ombak yang terlalu tinggi, dapat dimungkinkan terjadi kerusakan tanaman, seperti patah ataupun terlepas dari substratnya.
Selain itu, penyerapan zat hara akan terhambat sehingga sulit untuk diserap oleh thalus rumput laut. Jenis penting dari genus Eucheuma antara lain E. cottonii, E. spinosum, E. edule, E. alvarezii atau Kappaphycus alvarezii. Eucheuma cottonii adalah jenis yang dipilih untuk dibudidayakan. Pada E. cottoni spinanya tidak teratur atau tumpul dan percabangannya tidak teratur.

B.     Syarat Lokasi
Pemilihan lokasi merupakan yang sangat penting dalam mendukung keberhasilan usaha budidaya rumput laut. Lokasi budidaya, terutama dari segi ekologi akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan rumput laut. Selain itu, perlu juga dipertimbangkan pengembangan sektor lain, seperti perikanan, pertanian, pelayaran, pariwisata, pertambangan, perlindungan sumberdaya alam, serta kegiatan alam lainnya. Lokasi yang baik bagi budidaya rumpu laut, terutama Eucheuma sp. adalah yang terlindung dari pengaruh angin dan gelombang besar. Lokasi tersebut sangat diperlukan untuk menghindari kerusakan fisik sarana prasarana budidaya serta pertumbuhan rumput laut. Lokasi yang terlindung biasanya didapatkan teluk atau perairan yang terlindung oleh penghalang atau adanya pulau. Lokasi tersebut juga diharapkan berdekatan dengan sarana jalan dan tempat tinggal pemilik. Kedekatan tersebut karena akan mempermudah dalam kegiatan monitoring, penjagaan keamanan, pengangkutan bahan, sarana budidaya, bibit dan hasil panen.
Selain itu, untuk mengantisipasi masalah keamanan dan perbuatan sabotase, pengamanan baik secara individual maupun bersama-sama harus dilakukan. Beberapa pemilik usaha berupaya menjalin hubungan baik dengan masyarakat sekitar. Komunikasi yang baik dengan aparat pemerintah dan keamanan setempat juga harus dilakukan, terutama menyangkut masalah konflik kepentingan dengan beberapa kegiatan perikanan seperti penangkapan ikan, pengumpulan ikan hias, KJA, dan kegiatan non perikanan seperti pariwisata, perhubungan laut, industri dan taman nasional laut.
Dasar perairan yang sesuai bagi pertumbuhan Eucheuma sp adalah bersifat stabil dan padat. Dasar terdiri dari potongan-potongan karang mati bercampur pasir yang secara alami akan menjadi substrat bagi rumput laut. Substrat tersebut biasanya juga ditumbuhi oleh komunitas yang terdiri dari berbagai jenis makro-algae. Eucheuma sp dapat hidup dan tumbuh dengan baik pada kedalaman air minimal 50 – 60 cm saat surut terendah. Kondisi ini menghindarkan rumput laut mengalami kekeringan serta mengoptimalkan perolehan sinar matahari.
Rumput Laut merupakan organisme yang memperoleh makanan (nutrien) melalui arus. Gerakan air yang cukup kuat akan membawa nutrisi dan sekaligus mencuci kotoran yang menempel pada thalus. Arus yang cukup kuat juga membantu suplai oksigen dan mengatasi kenaikan temperatur air laut yang ekstrim. Kecepatan arus yang dianggap cukup untuk budidaya rumput laut berkisar 20 - 40 cm/detik.
Suhu yang baik untuk pertumbuhan rumput laut berkisar 20 – 28 ºC. Indikator lokasi yang memiliki arus yang baik adanya tumbuhan karang lunak, padang lamun yang bersih, dan dasar perairan miring ke satu arah.
Pada habitatnya, Eucheuma sp tumbuh pada kisaran salinitas air laut antara 28 – 34 ppt. Penurunan salinitas akibat masuknya air tawar akan menyebabkan pertumbuhan Eucheuma sp menjadi tidak normal dan berwarna pucat. Upaya untuk memperoleh perairan dengan kondisi salinitas yang optimal adalah dengan menghindari lokasi yang berdekatan dengan muara sungai.
Tingkat kecerahan perairan yang tinggi sangat dibutuhkan pada budidaya rumput laut. Tingkat kecerahan dimaksudkan agar cahaya matahari dapat menembus permukaan ke dalam air. Intensitas sinar yang diterima secara sempurna oleh thalus merupakan faktor utama dalam proses fotosintesis. Kondisi air yang jernih dengan tingkat transparansi sekitar 2 – 5 meter cukup baik bagi pertumbuhan rumput laut.
Faktor kemudahan dan lingkungan hidup juga sangat mendukung keberhasilan budidaya Eucheuma sp. Selain lokasi yang mudah dijangkau, perlu juga dipertimbangkan tentang pemasaran, ketersediaan bibit, tenaga kerja, kawasan urban dan industri. Bibit rumput laut yang baik harus selalu tersedia didekat lokasi. Apabila di lokasi budidaya tidak tersedia sumber bibit maka harus didatangkan dari lokasi lain yang tentunya juga berpengaruh pada  biaya produksi.
Selain itu, tenaga kerja sebaiknya dipilih yang bertempat tinggal dekat dengan lokasi budidaya, terutama pembudidaya atau nelayan lokal. Menggunakan tenaga lokal dapat menghemat biaya produksi dan sekaligus membuka peluang dan kesempatan kerja.
Pencemaran perairan oleh rumah tangga, industri, maupun limbah kapal laut harus dihindari. Semua bahan pencemaran dapat menghambat pertumbuhan rumput laut bahkan dapat menyebabkan kematian thalus.
Tabel 11. Klasifikasi lokasi untuk budidaya rumput laut Eucheuma sp.
No.
Parameter
Klasifikasi Baik
Klasifikasi cukup Baik
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
Keterlindungan
Arus air
Dasar perairan
Kedalaman
Kecerahan
Salinitas
Cemaran
Hewan herbivora
Kemudahan
Tenaga kerja
Terlindung (10)
20 - 30 cm/detik (15)
Pasir berbatu (10)
60 cm - 10 m (10)
Sechidisc 5 m (8)
32 - 34 ppt (15)
Tidak ada (10)
Tidak ada (7)
Mudah dijangkau (8)
Banyak (7)
Agak terlindung (8)
30 - 40 cm/detik (12)
Pasir berlumpur (8)
0 - 30 cm (8)
Sechidisc 2 - 5 m (6)
28 - 32 ppt (12)
Ada sedikit (8)
Ikan/bulubabi (6)
Cukup mudah dijangkau (6)
Cukup (6)

Total Nilai Penuh
(100)
(80)
Keterangan: Angka dalam kurung menunjukkan nilai.
Sumber : Mubarak, 1990; Sulistijo, 2005, Utojo, 2005

C.    Pembuatan Wadah Pemeliharaan
Metoda budidaya rumput laut yang akan dilakukan sangat mendukung keberhasilan usaha. Berdasarkan posisi tanaman terhadap dasar terdapat 4 (empat) Metoda budidaya Eucheuma sp yang terdiri dari Metoda sebar dasar, lepas dasar, rakit apung dan bentangan tali panjang (long line). Adapun Metoda yang telah direkomendasikan oleh Direktorat Jenderal Perikanan, meliputi : Metoda lepas dasar, Metoda rakit apung dan Metoda long line. Dalam usaha ini kami menggunakan metode rakit apung.

a.      Metoda Rakit Apung
Metoda rakit apung adalah teknik budidaya yang menggunakan rakit bambu atau bentuk modifikasi mengunakan bahan lain. Bentuk rakit umumnya persegi panjang atau bujur sangkar. Kerangka rakit dalam terbuat dari bambu atau tali PE atau kombinasi antara bambu dan PE.
Tiap unit rakit bambu biasanya ukuran 6 x 6 m. Pada sisi-sisi yang berlawanan dibentangkan tali nilon diameter 10 mm sebagai tali bentang. Jarak antar tali bentang berkisar 1 m. Bibit rumput laut dengan berat antara 50 – 100 gram digantung pada tali bentang (tali nilon 10 mm) menggunakan tali nilon diameter 4 mm dengan jarak tiap ikatan 25 cm. Pelampung dipasang pada tali bentang, diatur agar posisi ikatan berada sekitar 30 – 50 cm dari permukaan air.
Beberapa unit rakit bambu dapat dirangkaikan menjadi satu dengan jarak antar unit sekitar 1 m. Jangkar yang terbuat dari jaring bekas yang diisi batu-batu karang sebagai penahan, tiap sudut kerangka dihubungkan dengan jangkar yang terbuat dari jaring bekas yang diisi batu-batu karang, terhubung dengan tali diameter 10 mm dan pada setiap tegakan diberikan pemberat sebagai penan.
Dalam usa ini kita menggunakan metode rakit apung dengan cara penanaman secara vertical dengan usuran konstruksi seperti di atas.

D.    Penyediaan Benih dan Penampungannya
Bibit yang akan digunakan utuk budidaya rumput laut dapat berasal dari alam atau hasil budidaya. Keuntungan pengadaan bibit alam adalah mudah diperoleh, hemat biaya dan kondisi bibit telah sesuai dengan habitatnya, sehingga tidak sulit untuk beradaptasi. Kerugian menggunakan stok alam adalah bibit sering tercampur dengan jenis rumput laut lain.
Bagian tanaman yang dipilih untuk bibit adalah thalus yang relatif masih muda, segar, sehat, cukup elastis dan memiliki banyak cabang. Thalus yang baik memiliki pangkal yang lebih besar dari cabangnya, tidak berlendir da tidak luka. Ujung thalus berbentuk lurus, berwarna cerah dan mengkilap, bila digigit atau dipotong akan terasa getas. Thalus yang sehat umumnya bebas dari tanaman atau hewan penempel dan bersih kotoran.
Bibit yang baik diperoleh dengan cara memetik dari rumpun tanaman yang sehat berkisar 5 - 10 cm. Bibit tersebut selanjutnya ditunaskan pada areal khusus, misalnya rakit apung atau model lain yang terlindung dari predator. Penunasan dilakukan hingga kebutuhan untuk areal budidaya telah tercukupi. Jika jumlah bibit tidak memungkinkan atau telah terjadi penurunan kualitas, maka bibit dapat didatangkan dari lokasi lain yang lebih baik.
Pada saat pengiriman, bibit rumput laut harus tetap dalam keadaan basah atau lembab selama dalam perjalanan. Selama pengiriman, bibit tidak boleh terkena air tawar, air hujan, minyak atau cairan lain. Kerusakan bibit dapat dihindari dengan menjauhkan dari sumber panas misalnya panas mesin kendaraan atau sinar matahari langsung.
Sebelum dilakukan pengiriman, sebaiknya bibit dikemas dalam karung plastik dengan ukuran yang disesuai dengan jumlah yang akan dibawa. Bibit rumput laut dimasukkan ke dalam karung tanpa dipadatkan. Pemadatan akan menyebabkan bibit terluka, patah atau hancur. Mulut kantong kemasan diikat dengan erat dan bagian atas diberi lubang untuk sirkulasi udara. Kerusakan juga dapat dihindari dengan tidak menumpuk kantong kemasan dengan benda berat. Kemasan bibit diatur dan disusun agar tidak melebihi kapasitas beban kantong. Selanjutnya bibit siap dikirim ke lokasi budidaya rumput laut.

E.     Pemeliharaan
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan rumput laut yaitu :
  • Pemeriksaan tali penggantung dan waring yang sering kendur karena terpaan ombak.
  • Penggantian patok, rakit atau tali penggantung yang rusak akibat sering digunakan.
  • Pembersihan pasir, lumpur, dan hama yang menempel pada rumput laut untuk menghindari rontok.
  • Penggantian bibit yang rusak atau mati karena gangguan hama dan penyakit.    
Pemeliharaan dilakukan secara berkala terhadap posisi rakit apung, kerusakan patok, jangkar, tali ris, dan tali ris utama. Tali bentang dan tali ikat harus sering digoyang agar rumpun tanaman bersih dari kotoran, organisme penempel atau debu air yang melekat. Kotoran atau debu air yang melekat dapat mengganggu proses metabolisme sehingga kecepatan pertumbuhan menurun. Beberapa tumbuhan penempel, seperti Ulva, Hypnea, Chaetomorpha, Enteromorpha, sering membelit tanaman dan konstruksi budidaya sehingga dapat menimbulkan kerusakan.

F.     Pakan dan Cara Pemberian Pakan
Rumput Laut mendapatkan makanan dari nutrisi yang terkandung dalam air. Tumbuh dengan baik pada daerah yang mempunyai pergerakan air serta sinar matahari yang cukup untuk proses fotosintesis. Gerakan air, selain berfungsi untuk menyuplai zat hara, juga membantu memudahkan rumput laut menyerap zat hara, membersihkan kotoran yang ada, dan melangsungkan pertukaran CO2 dengan O2. Gerakan air mengalir (arus) yang baik untuk pertumbuhan rumput laut antara 20 – 40 cm/detik dan gelombang/ombak tidak lebih dari 30 cm. Bila arus air lebih cepat atau ombak yang terlalu tinggi, dapat dimungkinkan terjadi kerusakan tanaman, seperti patah ataupun terlepas dari substratnya.

G.    Pengendalian Hama dan Penyakit
Hama tanaman budidaya rumput laut umumnya merupakan organisme laut. Organisme ini hidup dengan memakan rumput laut sebagai makanan utamanya atau sebagian hidupnya memakan rumput laut. Hama dapat menimbulkan kerusakan secara fisik pada tanaman budidaya seperti terkelupas, patah atau bahkan habis termakan. Hama yang menyerang tanaman rumput laut berdasarkan ukuran dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu hama mikro (micro grazer) hama makro (macro grazer).


Hama mikro umumnya berukuran < 2 cm hidup menempel pada thalus, terutama yang tumbuh tidak normal. Hama mikro yang sering dijumpai pada tanaman budidaya rumput laut adalah larva bulu babi (Tripneustes). Larva ini bersifat planktonik, melayang-layang di dalam air dan kemudian menempel pada tanaman rumput laut. Larva teripang (Holothuria sp) juga menempel pada thalus rumput laut hingga besar. Larva-larva tersebut memakan ujung-ujung cabang thalus rumput laut secara langsung.
Pada budidaya rumput laut, hama makro yang sering dijumpai adalahikan baronang (Siganus sp), bintang laut (Protoreaster nodolus), bulu babi (Diademasetosum sp), bulu babi duri pendek (Tripneustes sp), dan penyu hijau (Chelonia mydas). Serangan ikan dan penyu dapat dicegah dengan melindungi areal budidaya menggunakan pagar yang terbuat dari jaring atau dengan menggantung benda yang mengkilap sepeti cermin atau Compact Disc (CD) bekas. Serangan bulu babi, teripang dan binatang laut sejenisnya berpengaruh relatif kecil pada areal budidaya cukup luas.
Jenis penyakit yang sering muncul umumnya adalah ice - ice. Penyakit biasanya terjadi pada daerah-daerah dengan kecerahan dan temperatur tinggi. Gejala penyakit ini adalah timbulnya bintik-bintik atau bercak-bercak putih pada sebagian thalus. Lama kelamaan bercak tersebut akan menyebabkan thalus kehilangan warna, berubah putih dan mudah putus. Penyakit ini diduga disebabkan oleh perubahan lingkungan yang ekstrem misalnya arus, suhu dan kecerahan. Cara pencegahan dari penyakit ini adalah dengan memonitor adanya perubahan-perubahan lingkungan. Cara lain yang dapat dilakukan adalah menurunkan posisi tanaman lebih dalam untuk mengurangi penetrasi panas sinar matahari. Pencegahan penyakit dapat dilakukan dengan tidak melakukan budidaya saat pergantian musim, umumnya dari musim hujan ke musim kemarau. Hal yang sering dilupakan oleh pembudidaya adalah menaikkan, membersihkan dan menjemur tali bentang saat telah selesai panen. Kegiatan tersebut sangat berpengaruh terhadap pencegahan penyakit, perkembangan thalus rumput laut dan menaikkan produktifitas.

H.    Panen dan Pascapanen
Hal penting yang harus menjadi perhatian saat panen rumput laut adalah usia budidaya dan tujuan panen. Hal ini sangat berkaitan erat dengan kualitas rumput laut dan kandungan karaginan yang dihasilkan. Bila panen dilakukan untuk tujuan sebagai sumber bibit, maka rumput laut baru dipanen setelah umur 23 – 25 hari, namun jika bertujuan untuk bahan material pabrik, maka panen sebaiknya dilakukan saat usia budidaya telah 45 – 50 hari. Kualitas hasil panen yang baik adalah apabila kandungan karaginan berkisar lebih dari 30 - 36%. Umumnya, karaginan pada rumput laut akan terbentuk secara optimal pada saat umur budidaya berkisar 45 – 50 hari.
Panen dapat dilakukan dengan cara memotong sebagian tanaman menggunakan benda tajam. Panen dengan cara ini mempunyai keuntungan hemat tali ikat bibit, namun memerlukan waktu kerja yang lebih lama. Sisa-sisa thalus yang tua akan menyebabkan pertumbuhan lambat, sehingga kadar karaginan dari hasil panen tersebut cenderung lebih rendah. Pemotongan tanaman sebaiknya dilakukan dengan alat pemotong yang tajam agar bekas potongan sisa tanaman dapat tumbuh dengan baik.
Cara panen sebaiknya dilakukan dengan mengangkat seluruh tanaman sekaligus dengan tali bentang. Bibit muda yang unggul dipisahkan terlebih dahulu sesuai dengan kebutuhan produksi berikutnya. Selanjutnya, tali bentang bersama hasil panen ditiriskan ada tiang jemur selama 1 – 2 hari atau hingga setengah kering. Keuntungan dengan penjemuran sistimgantung adalah jumlah penyusutan lebih kecil serta menghasilkan kualitas yang lebih baik.
 Pelepasan tanaman dari tali bentang dilakukan dengan cara memotong tali rafia. Hasil panen tersebut selanjutnya dijemur diatas para-para yang telah diberi alas waring hitam. Setiap 2 – 3 jam hasil panen dibalik hingga kering merata. Pada kondisi normal pengeringan akan berlangsung selama 2 -3 hari dengan kadar air mencapai 30 – 35 %.
Selama pengeringan, dapat juga dilakukan kegiatan sortasi dan membersihkan rumput laut dari kotoran yang menempel seperti Hypnea, Sargassum dan Ulva, dll. Pasir dan garam akan dipisahkan melalui pengayakan setelah proses pengeringan selesai. Ciri atau warna rumput laut yang sudah kering akan nampak berwarna putih kekuningan yang dilapisikristal garam. Umumnya, perbandingan antara basah dan kering dengan cara penjemuran tersebut setidaknya berkisar antara 7 : 1 hingga 6 : 1. Kualitas yang baik akan berpengaruh langsung terhadap harga rumput laut di pasaran.
Beberapa hal yang dapat merusak kualitas adalah panen pada usia budidaya kurang dari 50 hari. Pada usia budidaya tersebut kandungan karaginan belum mencapai standar 30%. Sangat tidak dianjurkan untuk menjemur rumput laut di atas pasir atau mencampur dengan bahan lain yang bertujuan menambah berat. Panen dengan cara melepas rumput dari ikatan tali bentang dengan cara diurut menyebabkan banyak thalus patah atau luka. Hal ini akan menyebabkan warna rumput laut menjadi kehitaman dan total kandungan karaginan berkurang hingga 30%. Cara tersebut juga mempertinggi konversi dari 7 atau 8 kg basah menjadi 1 kg kering (8 : 1).

I.       Pengangkutan
Dalam budidaya ini hanya dilakukan pengangkutan benih yang didatangkan daril luar sedangkan untuk hasil budidaya yang siap dijual tidak memerlukan pengangkutan karena tiap-tiap agen sudah ada di lokasi budidaya pada waktu ingin dipanen.










BAB III
ANALISIS USAHA


Asumsi-asumsi yang digunakan dalam perhitungan analisis kelayakan investasi untuk aspek keuangan ini sebagai berikut :
·         Proyek budidaya rumput laut 35 rakit apung dengan ukuran 6 x 6 m diusahakan oleh 7 orang dengan mempekerjakan tenaga kerja secara berkelompok.
·         Setiap rakit apung terdapat 720 titik tanaman atau 25.200 titik tanaman untuk 35 rakit apung.
·         Dengan masa produksi selama pemeliharaan 45 hari, setiap titik mengahasilkan 0,8 kg rumput laut basah atau total produksi selama 1 periode adalah 20.160 kg.
·         Frekuensi produksi dalam satu tahun sebanyak 6 kali.
·         Produksi dalam satu tahun (6 x 20.160 kg) atau 120.960 kg rumput laut basah.
·         Untuk rumput laut kering, diperoleh 12.096 kg dalam 1 tahun.
·         Harga jual rumput laut kering Rp. 7.000,- per kg di tingkat petani atau nelayan.
·         Total biaya investasi Rp. 38.940.000, biaya tenaga kerja Rp. 94.500.0000.
·         Jumlah pinjaman yang diperlukan Rp.50.000.000 dari bank dan 10 juta dadapatkan dari usaha sendiri.
·         Masa pengembalian pinjaman 10 tahun.

B.     Kebutuhan Biaya Investasi
Kebutuhan biaya proyek terdiri atas biaya investasi dan biaya tenaga kerja. Biaya investasi adalah biaya yang diperlukan untuk pengadaan sarana produksi terdiri atas : Pengadaan bambu, tali nilon, tali jangkar, jangkar, bibit, tempat dan alat penjemuran dan rumah jaga.
Biaya tenaga kerja dapat dirinci atas : biaya pembuatan rakit, pengikatan bibit, merajut tali gantungan, memasang setting di laut, pemeliharaan tanaman, pembuatan jemuran, biaya operasi perahu, biaya panenan dan pasca panen.
Rincian biaya proyek diuraikan sebagai berikut :
  1. Biaya Investasi
Periode 1 :
Rakit Apung                                                               Rp. 17.215.000
Bibit (E. Cottoni)                                                        Rp. 2.520.000
Tempat dan alat penjemuran                                       Rp. 3.000.000
1 unit Long Boat dengan mesin ketinting                  Rp. 6.000.000
Rumah tunggu                                                            Rp. 5.000.000
Jumlah investasi periode 1 :                          Rp 33.740.000
Periode 2 :                                                                   Rp. 0
Periode 3 :
Rakit Apung                                                               Rp. 2.600.000
Periode 4 :                                                                   Rp 0
Periode 5 :                                                                   Rp. 0
Periode 6 :
Rakit Apung                                                               Rp. 2.600.000
Total investasi                                                            Rp. 38.940.000

Pada periode ketiga dan keenam dilakukan penggantian bambu rakit apung, sedangkan tali nilon dan jangkar masih dapat digunakan sampai satu tahun operasi (6 periode). Dengan dilakukan penggantian bambu maka biaya tenaga kerja pada periode ketiga dan keenam pun mengalami peningkatan.





  1. Biaya Tenaga Kerja
Periode 1                                                                     Rp.18.000.000
Periode 2                                                                     Rp 18.000.000
Periode 3                                                                     Rp 13.500.000
Periode 4                                                                     Rp.13.500.000
Periode 5                                                                     Rp.18.000.000
Periode 6                                                                     Rp.13.500.000
Total Biaya Tenaga kerja                                         Rp. 94.500.0000
Total biaya Proyek per tahun                                  Rp. 133.440.000

Kebutuhan biaya proyek selama periode pertama adalah :
Biaya Investasi                                                Rp. 33.740.000
Biaya tenaga kerja                                           Rp. 18.000.000
Total                                                               Rp. 51.740.000

C.    Proyeksi Laba Rugi
Rincian analisa laba/rugi dapat dilihat pada lampiran tabel A.














BAB IV
PERNYATAAN DAN DUKUNGAN KERJASAMA


Proyek ini merupakan kerjasama antara berbagai pihak dalam usaha budidaya rumput laut antara lain :
  • pengusaha kecil yakni petani budidaya
  • pedagang eksportir rumput laut
  • pihak penyumbang dana (hibah)

A.    Organisasi
1.      Pemangku Kepentingan
Kegiatan budidaya ini dikembangkan oleh 7 orang dengan dengan tugasnya masing-masing antara lain :
Ø  Staf Lapangan
Staf lapangan melibatkan tenaga kerja dari daerah setempat. Tetapi tetap dikontrol oleh staf operasional. Setiap pekerja yang bekerja di lapangan dituntut untuk dapat melaporkan setiap perkembangan di lapangan dalam bentuk tertulis secara harian. Namun, jika ditemukan adanya masalah yang membutuhkan penanganan secara cepat, pekerja dapat menyampaikannya secara lisan.
Ø  Staf Operasional
Adapun susunan personil operasional (7 orang) dengan tugasnya masing-masing antara lain :
a.       Ketua
b.      Sekretaris
c.       Bendahara
d.      Koordinator Lapangan
e.       Penanganan Hama dan Penyakit
f.       Pemasaran

2.      Petani Budidaya
Petani budidaya yang diperkerjakan dalam usaha budidaya ini yaitu warga sekitar yang dapat bertanggung jawab atas keberlangsungan usaha budidaya rumput laut ini. Kegiatan usaha budidaya ini akan dimulai dari penyiapan lahan budidaya dan prasarananya, penyiapan bibit, penanaman, pemeliharaan, panen dan pascapaenen serta aspek pemasaran. Hasil panen dapat digarap oleh masing-masing petani atau nelayan yang bekerja.
Petani yang dipekerjakan dalam usaha budidaya ini beranggotakan 15 orang. Pada setiap kelompok yang diatur akan ditunjukan 1 orang ketua dan sekretaris yang mempunyai tugas yaitu melakukan koordinasi dengan pemegang saham tentang segala permasalahan yang timbul. Tugas penting dari sekretaris juga yaitu mencatat secara rutin dan melaporkan semua permasalahan dan tanggung jawab semua anggota kelompok dalam bentuk tertulis.

3.      Perusahaan Perikanan atau Pengolahan/Eksportir Rumput Laut
Satu perusahaan perikanan dan pengelolan / eksportir rumput laut yang bersedia menjalin kerja sama, harus memiliki kemampuan dan fasilitas pengolahan untuk bisa mengekspor rumput laut, serta bersedia membeli seluruh produksi rumput laut kering dari petani untuk selanjutnya diolah di pabrik dan atau diekspor. Di samping ini, perusahaan inti perlu memberikan bimbingan teknis budidaya dan membantu dalam pengadaan sarana produksi untuk keperluan budidaya rumput laut petani / nelayan.

4.      Hibah
Di samping mengadakan pengamatan terhadap kelayakan aspek-aspek budidaya rumput laut yang diperlukan, termasuk kelayakan finansial, pihak hibah di dalam mengadakan evaluasi, juga harus memastikan bagaimana pengelolaan dan persyaratan lainnya yang diperlukan sehingga dapat menunjang keberhasilan proyek. 

B.     Pola Kerja (Kerjasama)
Pola kerjasamanya dimulai dari pemberian sejumlah dukungan dana yang diperlukan dari hibah kepada wirausahawan kemudian dalam proses usaha budidaya wirausahawan mempekerjakan tenaga kerja untuk mendukung proses usaha budidaya ini.

C.    Mekanisme
Hibah memberikan sejumlah dukungan dana kepada wirausaha dan dengan rancangan yang sudah dipersiapkan maka dimulailah usaha budidaya itu dengan membangun akan konstruksi dan masukan bibit kemudian ditunggu 45 hari untuk masa panen. Pada waktu panen, wirausaha sudah mendatangkan kelompok dari para eksportir dan juga agen-agen yang hendak membeli untuk kebutuhan ekspor dan konsumsi. Dan pembagian hasil yang akan dibagikan antara wirausaha dengan tenaga kerja tergantung dari hasil panen yang diperoleh. Proporsi pembagian hasil antara wirausaha dan tenaga kerja yaitu 60 : 40.

D.    Perjanjian Kerja Sama
Dalam perjanjian kerjasama ini dicantumkan hak-hak dan kewajiban dari masing – masing pihak maka dibuatkan suatu nota perjanjian kesepakatan yang dibuat berdasarkan kesepakatan bersama antara lain :
  • Kewajiban Perusahaan Eksportir
    • Melakukan pengawasan terhadap cara panen dan pengelolaan pasca panen untuk mencapai mutu rumput laut yang tinggi.
    • Melakukan pembelian produksi rumput laut dari wirausahawan.
  • Kewajiban petani atau tenaga kerja :
§  Menggunakan sarana yang sudah disediakan,
§  Bertanggung jawab atas semua kegiatan yang dilaksanakan di lapangan,
§  Wajib melapor segala hal yang terjadi dalam bentuk lisan maupun tulisan.
§  Pada saat penjualan hasil, petani/nelayan akan menerima harga pembayaran upah sesuai dengan hasil prsoduksi dengan sistem bagi hasil antara wirausaha dan tenaga kerja sebesar 60 : 40.


BAB V
PENUTUP



Demikian proposal bantuan paket dana ini kami buat dan disampaikan kepada pemberi dana (hibah) sebagai bahan pertimbangan guna penetapan calon penerima paket bantuan untuk usaha budidaya rumput laut.

MODEL KELAYAKAN PROYEK KEMITRAAN (MK PKT) BUDIDAYA RUMPUT LAUT
TABEL 1. ANALISA BIAYA PROYEK UNTUK 35 UNIT RAKIT APUNG UKURAN 7 X 7 METER


NO
KOMPONEN ANALISA BIAYA PROYEK
UNIT
SATUAN
HARGA/UNIT
(Rp)
JUMLAH
P 1
JUMLAH
P 2
JUMLAH
P 3
JUMLAH
P 4
JUMLAH
P 5
JUMLAH
P 6
TOTAL
I
INVESTASI










1
Rakit Apung
35
unit
491800
17215000
0
2600000
0
0
2600000
22415000
2
Bibit (E. Cottoni)
25200
kg
1000
2520000
0
0
0
0
0
2520000
3
Tempat dan alat penjemuran
3
unit
1000000
3000000
0
0
0
0
0
3000000
4
Long Boat dengan mesin ketinting
1
unit
6000000
6000000
0
0
0
0
0
6000000
5
Rumah tunggu
2
unit
2500000
5000000
0
0
0
0
0
5000000
II
TOTAL BIAYA INVESTASI



33740000
0
2600000
0
0
2600000
38940000
III
TENAGA KERJA










1
Upah untuk 15 pekerja
15
Org
900000
18000000
18000000
13500000
13500000
18000000
18000000
94500000
IV
TOTAL BIAYA INVESTASI



18000000
18000000
13500000
13500000
18000000
18000000
94500000
V
TOTAL BIAYA PROYEK/ PERIODE


13491800
51740000
18000000
16100000
13500000
18000000
20600000
133440000
VI
TOTAL BIAYA PROYEK / TAHUN
Rp. 133.440.000







 





 









1 komentar:

  1. Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.

    Nama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.

    Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.

    Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.

    Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut

    BalasHapus