I. PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Rumput laut merupakan salah satu komoditas unggulan
pada kegiatan revitalisasi perikanan yang mempunyai pasar prospektif.
Permintaan dunia yang cukup tinggi menyebabkan hasil produksi yang berasal dari
alam tidak mencukupi, sehingga harus dilakukan upaya budidaya. Saat ini,
potensi lahan untuk budidaya rumput laut Indonesia sekitar 1,2 juta ha, namun
baru termanfaatkan sebanyak 26.700 ha (2,2%) dengan total produksi nasional
tahun 2004 berkisar 410.570 ton basah. Rumput Laut (sea weed) adalah
salah satu komoditas perikanan yang dapat dipergunakan untuk mendorong
pertumbuhan ekonomi rakyat.
Budidaya rumput laut tidak memerlukan teknologi yang
tinggi, investasi cenderung rendah, menyerap tenaga kerja yang cukup banyak
serta menghasilkan keuntungan yang relatif besar. Pengembangan usaha tersebut
diharapkan dapat mengurangi angka pengangguran (pro job), meningkatkan
pendapatan masyarakat (pro growth) serta pada gilirannya nanti dapat
menekan angka kemiskinan (pro poor).
Menilik dari potensi tersebut, maka tidaklah berlebihan
jika dilakukan upaya peningkatan produksi pada komoditas ini di Wilayah Maluku
melalui kegiatan revitalisasi. Provinsi Maluku sendiri memiliki perairan laut
yang memberikan kehidupan bagi masyarakat di sektor perikanan, perhubungan dan
parawisata. Potensi wilayah laut Maluku memiliki sumberdaya alam yang belum
dikembangkan secara optimal sampai saat ini. Sebagai salah satu komoditas
unggulan, rumput laut mempunyai prospek pasar yang sangat besar dan menjanjikan
serta baik untuk dikonsumsi lokal (dalam negeri) maupun luar negeri atau
ekspor.
Di perairan laut Maluku ditemukan sekitar 75 jenis alga
dan tersebar di perairan sekitar pulau Aru, Tanimbar, pulau-pulau terselatan,
Seram dan Taliabu Barat (Nontji, 1987). Jenis rumput laut yang banyak
dijumpai karena bernilai ekonomis tinggi dan dikembangkan di masyarakat antara
lain Euchemia cotoni dan Glacilaria spp.
Walaupun
prospek bisnis rumput laut begitu cerah, tetapi dalam upaya pengembangannya
masih banyak kendala yang dihadapi. Di bidang budidaya misalnya, ketersediaan
bibit yang berkualitas masih jarang dilakukan, teknis budidaya, pengolahan
pasca panen dan pemasarannya juga masih terdapat kendala. Telah diketahui bahwa
untuk mencapai suatu produksi yang maksimal di dalam kegiatan budidaya rumput
laut, maka diperlukan beberapa faktor pendukung, diantaranya pemakaian jenis
yang bermutu, teknik budidaya yang intensif, pascapanen yang tepat dan
kelancaran hasil produksi. Selain itu kunci suksesnya pengembangan rumput laut
di Provinsi Maluku yaitu perlu adanya kesamaan persepsi, komitmen dan sinergi
program di antara pihak-pihak yang terlibat seperti : Pemda, investor, petani,
perbankan dan pihak terkait lainnya.
Dengan
demikian, pengembangan rumput laut di daerah ini akan dapat dilakukan secara
terencana dan berkesinambungan sehingga pada gilirannya dapat meningkatkan
pendapatan masyarakat, mengurangi angka pengangguran dan kemiskinan,
meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) serta mengurangi kerusakan lingkungan
darat terutama akibat kegiatan penggalian tambang. Permasalahan inilah yang
menjadi dasar bagi kami untuk melakukan usaha budidaya Rumput Laut sehingga
dapat menghasilkan produksi yang maksimal. Untuk itu, dalam rangka menunjang
pengembangan usaha budidaya rumput laut ini, maka kami telah menyusun proposal
bagi pihak-pihak terkait sebagai acuan untuk mempersiapkan dan mempertimbangkan
kelayakan pembiayaan dan bantuan..
B. Tujuan
Secara umum,
tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah memberikan informasi kepada pemberi dana
untuk dapat memberikan bantuan dalam melakukan kajian terhadap pengembangan
kegiatan budidaya Rumput Laut di Maluku serta membuat desain perencanaan dan
pengembangan yang memuat sejumlah strategi. Perencanaan tersebut dapat
dijadikan sebagai acuan pelaksanaan bagi semua stakeholders maupun para
pembudidaya yang lain yang terkait dalam pengembangan produksi dan
pengolahan rumput laut.
Secara
khusus, tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah sebagai berikut :
- Peningkatan penyerapan tenaga kerja, khususnya di daerah pesisir melalui gerakan budidaya rumput laut.
- Pengurangan angka kemiskinan terutama di daerah pesisir melalui peningkatan kesejahteraan masyarakat pembudidaya rumput laut.
- Peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah, khususnya di Maluku melalui peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
II. TINJAUAN PUSTAKA
Berdasarkan Aspek ekonomis, rumput laut merupakan komoditas yang
potensial untuk dikembangkan mengingat nilai gizi yang dikandungnya. Selain
itu, rumput laut dapat dijadikan sebagai bahan makanan seperti agar-agar,
sayuran, kue dan menghasilkan bahan algin, karaginan dan fluseran yang
digunakan dalam industri farmasi, kosmetik, tekstil, dan lain sebagainya.
Dari sudut pandang lain, budidaya rumput laut sangat menguntungkan karena
dalam proses budidayanya tidak banyak menuntut tingkat keterampilan tinggi dan
modal yang besar, sehingga dapat dilakukan oleh semua anggota keluarga nelayan
termasuk ibu rumah tangga dan anak-anak. Selain itu masa panen atau produksinya
relatif singkat jika dibandingkan dengan budidaya laut yang lain misalnya
bandeng, udang dan kerang. Pangsa pasar rumput laut juga sangat luas baik dalam
ataupun luar negeri. Bahkan untuk tingkat konsumsi (pasar) taraf lokal pun para
pembudidaya masih kualahan untuk mencukupinya, belum lagi ditambah permintaan luar
negeri yang kian hari semakin meningkat, bahkan bisa dikatakan tidak terbatas.
Ditinjau dari sisi lahan, usaha budidaya rumput laut tidak banyak
kendala. Budidaya dapat dilakukan di hampir seluruh perairan laut nusantara,
namun tergantung pada jenis dan metode budidayanya serta jenis rumput laut yang
akan dibudidayakan.
Dari sisi penerapan teknologi, budidaya rumput laut juga jauh lebih
mudah, efisien serta ekonomis dibandingkan teknologi yang digunakan dalam
budidaya produk kelautan lainnya.
Dengan adanya aktifitas budidaya tentunya keuntungan yang bisa didapatkan
diantaranya; berkurangnya jumlah pengangguran, meningkatnya pendapatan
masyarakat, bertambahnya pendapatan asli daerah (PAD), persaingan usaha semakin
ketat sehingga roda perekonomian akan terus berjalan dan terciptanya iklim
usaha yang kondusif dan pada akhirnya akan tercipta kesejahteraan hidup
masyarakat.
Aspek Sosial, perkembangan usaha budidaya rumput laut jika dilakukan di
Maluku akan memberikan keuntungan bagi kehidupan masyarakat disekitar lokasi
budidaya. Keuntungan yang diperoleh diantaranya adalah kesempatan kerja yang
tersedia dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dukungan dari masyarakat
sekitar dan nelayan yang beroperasi di perairan sekitar lokasi budidaya sangat
diperlukan. Dengan adanya usaha budidaya rumput laut ini dan juga tersedianya
potensi pasar yang luas diharapkan mampu menumbuhkan semangat kerja dan
semangat berwirausaha masyarakat setempat.
Aspek ekologis, komoditas rumput laut memberikan banyak manfaat terhadap
lingkungan sekitarnya antara lain adalah dapat mengkonservasi lahan pesisir
terhadap berbagai aktivitas penangkapan yang tidak berwawasan lingkungan,
seperti penggunaan racun/bom untuk penangkapan ikan. Rumput laut juga merupakan
salah satu bagian penting dari ekosistem pesisir, yang secara ekologis memiliki
peranan dan fungsi ekologis yang sama dengan ekosistem pesisir lainnya seperti;
mangrove, lamun dan karang. Selain untuk mendapatkan keuntungan secara
ekonimis, diharapkan usaha budidaya ini juga merupakan salah satu cara untuk
melestarikan ekosistem rumput laut itu sendiri dan juga turut serta dalam upaya
mengembangkannya yaitu melalui pemanfaatan kecanggihan ilmu pengetahuan dan
teknologi misalnya dengan teknik kloning dan sistem kultur.
Aspek biologis, rumput laut memiliki klorofil yang berperan dalam proses
fotosintesis di perairan. Sehingga tumbuhan ini memegang peranan sebagai
produsen primer penghasil bahan organik dan oksigen di lingkungan perairan.
Aspek dampak lingkungan, sebagaimana biasanya, budidaya pasti
mensyaratkan lokasi yang bebas dari polusi dan pencemaran air. Selama masa
pemeliharaan sampai dengan masa panen, rumput laut tidak diberikan pakan, akan
tetapi rumput laut mendapatkan makanan dan nutrisi dari yang tersedia di
perairan laut. Dengan demikian budidaya rumput laut ini tidak mencemari dan
merusak lingkungan di sekitar.
A. Jenis
Biota
Jenis biota yang sering dibudidayakan adalah rumput
laut yang bernilai ekonomis tinggi antara lain Eucheuma sp., Gracilaria
sp. dam Gelidium sp. Namun, rumput laut yang akan diusahakan dalam
usaha budidaya ini adalah Eucheuma sp. Eucheuma sp memiliki
berbagai bentuk, tekstur dan variasi warna thalus. Rumpun terbentuk dalam
berbagai jenis percabangan. Jenis Eucheuma sp termasuk dalam kelas Rhodophyceae,
ordo Gigartinales, Famili Solieriaceae, mempunyai thalus yang
silindris, berduri kecil-kecil dan menutupi thalus. Percabangan tidak teratur
sehingga merupakan lingkaran, ujungnya runcing berwarna coklat ungu atau hijau
kuning.
Jenis ini hidup di daerah pasang surut dengan kedalaman
air antara 30 – 50 cm pada waktu surut terendah. Cara hidupnya dengan
menempelkan diri pada substrat. Rumput Laut mendapatkan makanan dari nutrisi
yang terkandung dalam air. Tumbuh dengan baik pada daerah yang mempunyai
pergerakan air serta sinar matahari yang cukup untuk proses fotosintesis.
Gerakan air, selain berfungsi untuk menyuplai zat hara, juga membantu
memudahkan rumput laut menyerap zat hara, membersihkan kotoran yang ada, dan
melangsungkan pertukaran CO2 dengan O2. Gerakan air mengalir (arus) yang baik
untuk pertumbuhan rumput laut antara 20 – 40 cm/detik dan gelombang/ombak tidak
lebih dari 30 cm. Bila arus air lebih cepat atau ombak yang terlalu tinggi,
dapat dimungkinkan terjadi kerusakan tanaman, seperti patah ataupun terlepas
dari substratnya.
Selain itu, penyerapan zat hara akan terhambat sehingga
sulit untuk diserap oleh thalus rumput laut. Jenis penting dari genus Eucheuma
antara lain E. cottonii, E. spinosum, E. edule, E. alvarezii atau Kappaphycus
alvarezii. Eucheuma cottonii adalah jenis yang dipilih untuk
dibudidayakan. Pada E. cottoni spinanya tidak teratur atau tumpul dan
percabangannya tidak teratur.
B.
Syarat Lokasi
Pemilihan lokasi merupakan yang sangat penting dalam
mendukung keberhasilan usaha budidaya rumput laut. Lokasi budidaya,
terutama dari segi ekologi akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan rumput
laut. Selain itu, perlu juga dipertimbangkan pengembangan sektor lain, seperti
perikanan, pertanian, pelayaran, pariwisata, pertambangan, perlindungan
sumberdaya alam, serta kegiatan alam lainnya. Lokasi yang baik bagi budidaya
rumpu laut, terutama Eucheuma sp. adalah yang terlindung dari pengaruh
angin dan gelombang besar. Lokasi tersebut sangat diperlukan untuk menghindari
kerusakan fisik sarana prasarana budidaya serta pertumbuhan rumput laut. Lokasi
yang terlindung biasanya didapatkan teluk atau perairan yang terlindung oleh
penghalang atau adanya pulau. Lokasi tersebut juga diharapkan berdekatan dengan
sarana jalan dan tempat tinggal pemilik. Kedekatan tersebut karena akan
mempermudah dalam kegiatan monitoring, penjagaan keamanan, pengangkutan bahan,
sarana budidaya, bibit dan hasil panen.
Selain itu, untuk mengantisipasi masalah keamanan dan
perbuatan sabotase, pengamanan baik secara individual maupun bersama-sama harus
dilakukan. Beberapa pemilik usaha berupaya menjalin hubungan baik dengan
masyarakat sekitar. Komunikasi yang baik dengan aparat pemerintah dan keamanan
setempat juga harus dilakukan, terutama menyangkut masalah konflik kepentingan
dengan beberapa kegiatan perikanan seperti penangkapan ikan, pengumpulan ikan
hias, KJA, dan kegiatan non perikanan seperti pariwisata, perhubungan laut,
industri dan taman nasional laut.
Dasar perairan yang sesuai bagi pertumbuhan Eucheuma
sp adalah bersifat stabil dan padat. Dasar terdiri dari potongan-potongan
karang mati bercampur pasir yang secara alami akan menjadi substrat bagi rumput
laut. Substrat tersebut biasanya juga ditumbuhi oleh komunitas yang terdiri
dari berbagai jenis makro-algae. Eucheuma sp dapat
hidup dan tumbuh dengan baik pada kedalaman air minimal 50 – 60 cm saat surut
terendah. Kondisi ini menghindarkan rumput laut mengalami kekeringan serta
mengoptimalkan perolehan sinar matahari.
Rumput Laut
merupakan organisme yang memperoleh makanan (nutrien) melalui arus.
Gerakan air yang cukup kuat akan membawa nutrisi dan sekaligus mencuci kotoran
yang menempel pada thalus. Arus yang cukup kuat juga membantu suplai
oksigen dan mengatasi kenaikan temperatur air laut yang ekstrim. Kecepatan arus
yang dianggap cukup untuk budidaya rumput laut berkisar 20 - 40 cm/detik.
Suhu yang
baik untuk pertumbuhan rumput laut berkisar 20 – 28 ºC. Indikator lokasi yang
memiliki arus yang baik adanya tumbuhan karang lunak, padang lamun yang bersih,
dan dasar perairan miring ke satu arah.
Pada
habitatnya, Eucheuma sp tumbuh pada kisaran salinitas air laut antara 28
– 34 ppt. Penurunan salinitas akibat masuknya air tawar akan menyebabkan
pertumbuhan Eucheuma sp menjadi tidak normal dan berwarna pucat. Upaya
untuk memperoleh perairan dengan kondisi salinitas yang optimal adalah dengan
menghindari lokasi yang berdekatan dengan muara sungai.
Tingkat
kecerahan perairan yang tinggi sangat dibutuhkan pada budidaya rumput laut.
Tingkat kecerahan dimaksudkan agar cahaya matahari dapat menembus permukaan ke
dalam air. Intensitas sinar yang diterima secara sempurna oleh thalus merupakan
faktor utama dalam proses fotosintesis. Kondisi air yang jernih dengan tingkat
transparansi sekitar 2 – 5 meter cukup baik bagi pertumbuhan rumput laut.
Faktor
kemudahan dan lingkungan hidup juga sangat mendukung keberhasilan budidaya Eucheuma
sp. Selain lokasi yang mudah dijangkau, perlu juga dipertimbangkan tentang
pemasaran, ketersediaan bibit, tenaga kerja, kawasan urban dan industri. Bibit
rumput laut yang baik harus selalu tersedia didekat lokasi. Apabila di lokasi
budidaya tidak tersedia sumber bibit maka harus didatangkan dari lokasi lain
yang tentunya juga berpengaruh pada
biaya produksi.
Selain itu,
tenaga kerja sebaiknya dipilih yang bertempat tinggal dekat dengan lokasi
budidaya, terutama pembudidaya atau nelayan lokal. Menggunakan tenaga lokal
dapat menghemat biaya produksi dan sekaligus membuka peluang dan kesempatan
kerja.
Pencemaran
perairan oleh rumah tangga, industri, maupun limbah kapal laut harus dihindari.
Semua bahan pencemaran dapat menghambat pertumbuhan rumput laut bahkan dapat
menyebabkan kematian thalus.
Tabel 11. Klasifikasi lokasi untuk budidaya rumput laut Eucheuma sp.
|
No.
|
Parameter
|
Klasifikasi
Baik
|
Klasifikasi
cukup Baik
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
|
Keterlindungan
Arus
air
Dasar
perairan
Kedalaman
Kecerahan
Salinitas
Cemaran
Hewan
herbivora
Kemudahan
Tenaga
kerja
|
Terlindung
(10)
20
- 30 cm/detik (15)
Pasir
berbatu (10)
60
cm - 10 m (10)
Sechidisc 5 m
(8)
32
- 34 ppt (15)
Tidak
ada (10)
Tidak
ada (7)
Mudah
dijangkau (8)
Banyak (7)
|
Agak
terlindung (8)
30
- 40 cm/detik (12)
Pasir
berlumpur (8)
0 -
30 cm (8)
Sechidisc 2 -
5 m (6)
28
- 32 ppt (12)
Ada
sedikit (8)
Ikan/bulubabi
(6)
Cukup
mudah dijangkau (6)
Cukup
(6)
|
|
|
Total Nilai
Penuh
|
(100)
|
(80)
|
Keterangan:
Angka dalam kurung menunjukkan nilai.
Sumber : Mubarak, 1990; Sulistijo, 2005, Utojo, 2005
C. Pembuatan Wadah Pemeliharaan
Metoda
budidaya rumput laut yang akan dilakukan sangat mendukung keberhasilan usaha.
Berdasarkan posisi tanaman terhadap dasar terdapat 4 (empat) Metoda budidaya Eucheuma
sp yang terdiri dari Metoda sebar dasar, lepas dasar, rakit apung dan
bentangan tali panjang (long line). Adapun Metoda yang telah
direkomendasikan oleh Direktorat Jenderal Perikanan, meliputi : Metoda lepas
dasar, Metoda rakit apung dan Metoda long line. Dalam usaha ini kami
menggunakan metode rakit apung.
a. Metoda Rakit Apung
Metoda rakit
apung adalah teknik budidaya yang menggunakan rakit bambu atau bentuk
modifikasi mengunakan bahan lain. Bentuk rakit umumnya persegi panjang atau
bujur sangkar. Kerangka rakit dalam terbuat dari bambu atau tali PE atau
kombinasi antara bambu dan PE.
Tiap unit
rakit bambu biasanya ukuran 6 x 6 m. Pada sisi-sisi yang berlawanan
dibentangkan tali nilon diameter 10 mm sebagai tali bentang. Jarak antar tali
bentang berkisar 1 m. Bibit rumput laut dengan berat antara 50 – 100 gram
digantung pada tali bentang (tali nilon 10 mm) menggunakan tali nilon diameter
4 mm dengan jarak tiap ikatan 25 cm. Pelampung dipasang pada tali bentang,
diatur agar posisi ikatan berada sekitar 30 – 50 cm dari permukaan air.
Beberapa unit
rakit bambu dapat dirangkaikan menjadi satu dengan jarak antar unit sekitar 1
m. Jangkar yang terbuat dari jaring bekas yang diisi batu-batu karang sebagai
penahan, tiap sudut kerangka dihubungkan dengan jangkar yang terbuat dari
jaring bekas yang diisi batu-batu karang, terhubung dengan tali diameter 10 mm
dan pada setiap tegakan diberikan pemberat sebagai penan.
Dalam usa
ini kita menggunakan metode rakit apung dengan cara penanaman secara vertical
dengan usuran konstruksi seperti di atas.
D. Penyediaan Benih dan Penampungannya
Bibit yang
akan digunakan utuk budidaya rumput laut dapat berasal dari alam atau hasil
budidaya. Keuntungan pengadaan bibit alam adalah mudah diperoleh, hemat biaya
dan kondisi bibit telah sesuai dengan habitatnya, sehingga tidak sulit untuk
beradaptasi. Kerugian menggunakan stok alam adalah bibit sering tercampur
dengan jenis rumput laut lain.
Bagian
tanaman yang dipilih untuk bibit adalah thalus yang relatif masih muda, segar,
sehat, cukup elastis dan memiliki banyak cabang. Thalus yang baik memiliki
pangkal yang lebih besar dari cabangnya, tidak berlendir da tidak luka. Ujung
thalus berbentuk lurus, berwarna cerah dan mengkilap, bila digigit atau
dipotong akan terasa getas. Thalus yang sehat umumnya bebas dari tanaman atau
hewan penempel dan bersih kotoran.
Bibit yang
baik diperoleh dengan cara memetik dari rumpun tanaman yang sehat berkisar 5 -
10 cm. Bibit tersebut selanjutnya ditunaskan pada areal khusus, misalnya rakit
apung atau model lain yang terlindung dari predator. Penunasan dilakukan hingga
kebutuhan untuk areal budidaya telah tercukupi. Jika jumlah bibit tidak
memungkinkan atau telah terjadi penurunan kualitas, maka bibit dapat
didatangkan dari lokasi lain yang lebih baik.
Pada saat
pengiriman, bibit rumput laut harus tetap dalam keadaan basah atau lembab
selama dalam perjalanan. Selama pengiriman, bibit tidak boleh terkena air
tawar, air hujan, minyak atau cairan lain. Kerusakan bibit dapat dihindari
dengan menjauhkan dari sumber panas misalnya panas mesin kendaraan atau sinar
matahari langsung.
Sebelum
dilakukan pengiriman, sebaiknya bibit dikemas dalam karung plastik dengan
ukuran yang disesuai dengan jumlah yang akan dibawa. Bibit rumput laut
dimasukkan ke dalam karung tanpa dipadatkan. Pemadatan akan menyebabkan bibit
terluka, patah atau hancur. Mulut kantong kemasan diikat dengan erat dan bagian
atas diberi lubang untuk sirkulasi udara. Kerusakan juga dapat dihindari dengan
tidak menumpuk kantong kemasan dengan benda berat. Kemasan bibit diatur dan
disusun agar tidak melebihi kapasitas beban kantong. Selanjutnya bibit siap
dikirim ke lokasi budidaya rumput laut.
E. Pemeliharaan
Beberapa hal
yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan rumput laut yaitu :
- Pemeriksaan tali penggantung dan waring yang sering kendur karena terpaan ombak.
- Penggantian patok, rakit atau tali penggantung yang rusak akibat sering digunakan.
- Pembersihan pasir, lumpur, dan hama yang menempel pada rumput laut untuk menghindari rontok.
- Penggantian bibit yang rusak atau mati karena gangguan hama dan penyakit.
Pemeliharaan
dilakukan secara berkala terhadap posisi rakit apung, kerusakan patok, jangkar,
tali ris, dan tali ris utama. Tali bentang dan tali ikat harus sering digoyang
agar rumpun tanaman bersih dari kotoran, organisme penempel atau debu air yang
melekat. Kotoran atau debu air yang melekat dapat mengganggu proses metabolisme
sehingga kecepatan pertumbuhan menurun. Beberapa tumbuhan penempel, seperti Ulva,
Hypnea, Chaetomorpha, Enteromorpha, sering membelit tanaman dan konstruksi
budidaya sehingga dapat menimbulkan kerusakan.
F. Pakan dan Cara Pemberian Pakan
Rumput Laut
mendapatkan makanan dari nutrisi yang terkandung dalam air. Tumbuh dengan baik
pada daerah yang mempunyai pergerakan air serta sinar matahari yang cukup untuk
proses fotosintesis. Gerakan air, selain berfungsi untuk menyuplai zat hara,
juga membantu memudahkan rumput laut menyerap zat hara, membersihkan kotoran
yang ada, dan melangsungkan pertukaran CO2 dengan O2.
Gerakan air mengalir (arus) yang baik untuk pertumbuhan rumput laut antara 20 –
40 cm/detik dan gelombang/ombak tidak lebih dari 30 cm. Bila arus air lebih
cepat atau ombak yang terlalu tinggi, dapat dimungkinkan terjadi kerusakan
tanaman, seperti patah ataupun terlepas dari substratnya.
G. Pengendalian
Hama dan Penyakit
Hama tanaman
budidaya rumput laut umumnya merupakan organisme laut. Organisme ini hidup
dengan memakan rumput laut sebagai makanan utamanya atau sebagian hidupnya
memakan rumput laut. Hama dapat menimbulkan kerusakan secara fisik pada tanaman
budidaya seperti terkelupas, patah atau bahkan habis termakan. Hama yang
menyerang tanaman rumput laut berdasarkan ukuran dikelompokkan menjadi 2
bagian, yaitu hama mikro (micro grazer) hama makro (macro grazer).
Hama mikro
umumnya berukuran < 2 cm hidup menempel pada thalus, terutama yang tumbuh
tidak normal. Hama mikro yang sering dijumpai pada tanaman budidaya rumput laut
adalah larva bulu babi (Tripneustes). Larva ini bersifat planktonik,
melayang-layang di dalam air dan kemudian menempel pada tanaman rumput laut.
Larva teripang (Holothuria sp) juga menempel pada thalus rumput laut
hingga besar. Larva-larva tersebut memakan ujung-ujung cabang thalus rumput
laut secara langsung.
Pada
budidaya rumput laut, hama makro yang sering dijumpai adalahikan baronang (Siganus
sp), bintang laut (Protoreaster nodolus), bulu babi (Diademasetosum
sp), bulu babi duri pendek (Tripneustes sp), dan penyu hijau (Chelonia
mydas). Serangan ikan dan penyu dapat dicegah dengan melindungi areal
budidaya menggunakan pagar yang terbuat dari jaring atau dengan menggantung
benda yang mengkilap sepeti cermin atau Compact Disc (CD) bekas.
Serangan bulu babi, teripang dan binatang laut sejenisnya berpengaruh relatif
kecil pada areal budidaya cukup luas.
Jenis
penyakit yang sering muncul umumnya adalah ice - ice. Penyakit
biasanya terjadi pada daerah-daerah dengan kecerahan dan temperatur tinggi.
Gejala penyakit ini adalah timbulnya bintik-bintik atau bercak-bercak putih
pada sebagian thalus. Lama kelamaan bercak tersebut akan menyebabkan thalus
kehilangan warna, berubah putih dan mudah putus. Penyakit ini diduga disebabkan
oleh perubahan lingkungan yang ekstrem misalnya arus, suhu dan kecerahan. Cara
pencegahan dari penyakit ini adalah dengan memonitor adanya perubahan-perubahan
lingkungan. Cara lain yang dapat dilakukan adalah menurunkan posisi tanaman
lebih dalam untuk mengurangi penetrasi panas sinar matahari. Pencegahan penyakit
dapat dilakukan dengan tidak melakukan budidaya saat pergantian musim, umumnya
dari musim hujan ke musim kemarau. Hal yang sering dilupakan oleh pembudidaya
adalah menaikkan, membersihkan dan menjemur tali bentang saat telah selesai
panen. Kegiatan tersebut sangat berpengaruh terhadap pencegahan penyakit,
perkembangan thalus rumput laut dan menaikkan produktifitas.
H. Panen
dan Pascapanen
Hal penting yang harus menjadi perhatian saat panen
rumput laut adalah usia budidaya dan tujuan panen. Hal ini sangat berkaitan erat dengan kualitas
rumput laut dan kandungan karaginan yang dihasilkan. Bila panen dilakukan untuk
tujuan sebagai sumber bibit, maka rumput laut baru dipanen setelah umur 23 – 25
hari, namun jika bertujuan untuk bahan material pabrik, maka panen sebaiknya
dilakukan saat usia budidaya telah 45 – 50 hari. Kualitas hasil panen yang baik
adalah apabila kandungan karaginan berkisar lebih dari 30 - 36%. Umumnya,
karaginan pada rumput laut akan terbentuk secara optimal pada saat umur
budidaya berkisar 45 – 50 hari.
Panen dapat
dilakukan dengan cara memotong sebagian tanaman menggunakan benda tajam. Panen
dengan cara ini mempunyai keuntungan hemat tali ikat bibit, namun memerlukan
waktu kerja yang lebih lama. Sisa-sisa thalus yang tua akan menyebabkan
pertumbuhan lambat, sehingga kadar karaginan dari hasil panen tersebut
cenderung lebih rendah. Pemotongan tanaman sebaiknya dilakukan dengan alat
pemotong yang tajam agar bekas potongan sisa tanaman dapat tumbuh dengan baik.
Cara panen
sebaiknya dilakukan dengan mengangkat seluruh tanaman sekaligus dengan tali
bentang. Bibit muda yang unggul dipisahkan terlebih dahulu sesuai dengan
kebutuhan produksi berikutnya. Selanjutnya, tali bentang bersama hasil panen
ditiriskan ada tiang jemur selama 1 – 2 hari atau hingga setengah kering.
Keuntungan dengan penjemuran sistimgantung adalah jumlah penyusutan lebih kecil
serta menghasilkan kualitas yang lebih baik.
Pelepasan tanaman dari tali bentang dilakukan
dengan cara memotong tali rafia. Hasil panen tersebut selanjutnya dijemur
diatas para-para yang telah diberi alas waring hitam. Setiap 2 – 3 jam hasil
panen dibalik hingga kering merata. Pada kondisi normal pengeringan akan
berlangsung selama 2 -3 hari dengan kadar air mencapai 30 – 35 %.
Selama
pengeringan, dapat juga dilakukan kegiatan sortasi dan membersihkan rumput laut
dari kotoran yang menempel seperti Hypnea, Sargassum dan Ulva, dll.
Pasir dan garam akan dipisahkan melalui pengayakan setelah proses pengeringan
selesai. Ciri atau warna rumput laut yang sudah kering akan nampak berwarna
putih kekuningan yang dilapisikristal garam. Umumnya, perbandingan antara basah
dan kering dengan cara penjemuran tersebut setidaknya berkisar antara 7 : 1 hingga
6 : 1. Kualitas yang baik akan berpengaruh langsung terhadap harga rumput laut
di pasaran.
Beberapa hal
yang dapat merusak kualitas adalah panen pada usia budidaya kurang dari 50
hari. Pada usia budidaya tersebut kandungan karaginan belum mencapai standar
30%. Sangat tidak dianjurkan untuk menjemur rumput laut di atas pasir atau
mencampur dengan bahan lain yang bertujuan menambah berat. Panen dengan cara
melepas rumput dari ikatan tali bentang dengan cara diurut menyebabkan banyak thalus
patah atau luka. Hal ini akan menyebabkan warna rumput laut menjadi kehitaman
dan total kandungan karaginan berkurang hingga 30%. Cara tersebut juga
mempertinggi konversi dari 7 atau 8 kg basah menjadi 1 kg kering (8 : 1).
I.
Pengangkutan
Dalam budidaya ini hanya dilakukan pengangkutan benih
yang didatangkan daril luar sedangkan untuk hasil budidaya yang siap dijual
tidak memerlukan pengangkutan karena tiap-tiap agen sudah ada di lokasi
budidaya pada waktu ingin dipanen.
BAB III
ANALISIS USAHA
Asumsi-asumsi yang digunakan dalam perhitungan analisis kelayakan
investasi untuk aspek keuangan ini sebagai berikut :
·
Proyek budidaya rumput laut 35 rakit apung
dengan ukuran 6 x 6 m diusahakan oleh 7 orang dengan mempekerjakan tenaga kerja
secara berkelompok.
·
Setiap rakit apung terdapat 720 titik tanaman
atau 25.200 titik tanaman untuk 35 rakit apung.
·
Dengan masa produksi selama pemeliharaan 45
hari, setiap titik mengahasilkan 0,8 kg rumput laut basah atau total produksi
selama 1 periode adalah 20.160 kg.
·
Frekuensi
produksi dalam satu tahun sebanyak 6 kali.
·
Produksi
dalam satu tahun (6 x 20.160 kg) atau 120.960 kg rumput laut basah.
·
Untuk
rumput laut kering, diperoleh 12.096 kg dalam 1 tahun.
·
Harga
jual rumput laut kering Rp. 7.000,- per kg di tingkat petani atau nelayan.
·
Total
biaya investasi Rp. 38.940.000, biaya tenaga kerja Rp. 94.500.0000.
·
Jumlah
pinjaman yang diperlukan Rp.50.000.000 dari bank dan 10 juta dadapatkan dari
usaha sendiri.
·
Masa
pengembalian pinjaman 10 tahun.
B. Kebutuhan Biaya Investasi
Kebutuhan
biaya proyek terdiri atas biaya investasi dan biaya tenaga kerja. Biaya investasi
adalah biaya yang diperlukan untuk pengadaan sarana produksi terdiri atas :
Pengadaan bambu, tali nilon, tali jangkar, jangkar, bibit, tempat dan alat
penjemuran dan rumah jaga.
Biaya tenaga
kerja dapat dirinci atas : biaya pembuatan rakit, pengikatan bibit, merajut
tali gantungan, memasang setting di laut, pemeliharaan tanaman, pembuatan
jemuran, biaya operasi perahu, biaya panenan dan pasca panen.
Rincian biaya proyek diuraikan sebagai berikut :
Rincian biaya proyek diuraikan sebagai berikut :
- Biaya Investasi
Periode 1 :
Rakit Apung Rp. 17.215.000
Bibit (E. Cottoni) Rp. 2.520.000
Tempat dan alat penjemuran Rp. 3.000.000
1 unit Long Boat dengan mesin ketinting Rp. 6.000.000
Rumah tunggu Rp. 5.000.000
Jumlah investasi periode 1 : Rp 33.740.000
Periode 2 : Rp. 0
Periode 3 :
Rakit Apung Rp. 2.600.000
Periode 4 : Rp 0
Periode 5 : Rp. 0
Periode 6 :
Rakit Apung Rp.
2.600.000
Total investasi Rp.
38.940.000
Pada periode
ketiga dan keenam dilakukan penggantian bambu rakit apung, sedangkan tali nilon
dan jangkar masih dapat digunakan sampai satu tahun operasi (6 periode). Dengan
dilakukan penggantian bambu maka biaya tenaga kerja pada periode ketiga dan
keenam pun mengalami peningkatan.
- Biaya Tenaga Kerja
Periode 1 Rp.18.000.000
Periode 2 Rp
18.000.000
Periode 3 Rp
13.500.000
Periode 4 Rp.13.500.000
Periode 5 Rp.18.000.000
Periode 6 Rp.13.500.000
Total Biaya Tenaga kerja Rp.
94.500.0000
Total biaya Proyek per tahun Rp. 133.440.000
Kebutuhan biaya proyek selama periode
pertama adalah :
Biaya Investasi Rp. 33.740.000
Biaya tenaga kerja Rp. 18.000.000
Total Rp.
51.740.000
C. Proyeksi Laba Rugi
Rincian analisa laba/rugi dapat dilihat
pada lampiran tabel A.
BAB IV
PERNYATAAN
DAN DUKUNGAN KERJASAMA
Proyek ini merupakan kerjasama
antara berbagai pihak dalam usaha budidaya rumput laut antara lain :
- pengusaha kecil yakni petani budidaya
- pedagang eksportir rumput laut
- pihak penyumbang dana (hibah)
A. Organisasi
1. Pemangku
Kepentingan
Kegiatan budidaya
ini dikembangkan oleh 7 orang dengan dengan tugasnya masing-masing antara lain
:
Ø Staf Lapangan
Staf
lapangan melibatkan tenaga kerja dari daerah setempat. Tetapi tetap dikontrol
oleh staf operasional. Setiap pekerja yang bekerja di lapangan dituntut untuk
dapat melaporkan setiap perkembangan di lapangan dalam bentuk tertulis secara
harian. Namun, jika ditemukan adanya masalah yang membutuhkan penanganan secara
cepat, pekerja dapat menyampaikannya secara lisan.
Ø Staf Operasional
Adapun
susunan personil operasional (7 orang) dengan tugasnya masing-masing antara
lain :
a.
Ketua
b.
Sekretaris
c.
Bendahara
d.
Koordinator Lapangan
e.
Penanganan Hama dan Penyakit
f.
Pemasaran
2. Petani
Budidaya
Petani budidaya yang diperkerjakan dalam usaha budidaya ini
yaitu warga sekitar yang dapat bertanggung jawab atas keberlangsungan usaha
budidaya rumput laut ini. Kegiatan usaha budidaya ini akan dimulai dari
penyiapan lahan budidaya dan prasarananya, penyiapan bibit, penanaman,
pemeliharaan, panen dan pascapaenen serta aspek pemasaran. Hasil panen dapat
digarap oleh masing-masing petani atau nelayan yang bekerja.
Petani yang dipekerjakan dalam usaha budidaya ini
beranggotakan 15 orang. Pada setiap kelompok yang diatur akan ditunjukan 1
orang ketua dan sekretaris yang mempunyai tugas yaitu melakukan koordinasi
dengan pemegang saham tentang segala permasalahan yang timbul. Tugas penting
dari sekretaris juga yaitu mencatat secara rutin dan melaporkan semua
permasalahan dan tanggung jawab semua anggota kelompok dalam bentuk tertulis.
3. Perusahaan Perikanan atau
Pengolahan/Eksportir Rumput Laut
Satu perusahaan
perikanan dan pengelolan / eksportir rumput laut yang bersedia menjalin kerja
sama, harus memiliki kemampuan dan fasilitas pengolahan untuk bisa mengekspor
rumput laut, serta bersedia membeli seluruh produksi rumput laut kering dari
petani untuk selanjutnya diolah di pabrik dan atau diekspor. Di samping ini,
perusahaan inti perlu memberikan bimbingan teknis budidaya dan membantu dalam
pengadaan sarana produksi untuk keperluan budidaya rumput laut petani /
nelayan.
4. Hibah
Di samping mengadakan
pengamatan terhadap kelayakan aspek-aspek budidaya rumput laut yang diperlukan,
termasuk kelayakan finansial, pihak hibah di dalam mengadakan evaluasi, juga
harus memastikan bagaimana pengelolaan dan persyaratan lainnya yang diperlukan
sehingga dapat menunjang keberhasilan proyek.
B. Pola
Kerja (Kerjasama)
Pola kerjasamanya dimulai dari pemberian sejumlah
dukungan dana yang diperlukan dari hibah kepada wirausahawan kemudian dalam
proses usaha budidaya wirausahawan mempekerjakan tenaga kerja untuk mendukung
proses usaha budidaya ini.
C. Mekanisme
Hibah memberikan sejumlah dukungan dana kepada
wirausaha dan dengan rancangan yang sudah dipersiapkan maka dimulailah usaha
budidaya itu dengan membangun akan konstruksi dan masukan bibit kemudian
ditunggu 45 hari untuk masa panen. Pada waktu panen, wirausaha sudah
mendatangkan kelompok dari para eksportir dan juga agen-agen yang hendak
membeli untuk kebutuhan ekspor dan konsumsi. Dan pembagian hasil yang akan
dibagikan antara wirausaha dengan tenaga kerja tergantung dari hasil panen yang
diperoleh. Proporsi pembagian hasil antara wirausaha dan tenaga kerja yaitu 60
: 40.
D. Perjanjian
Kerja Sama
Dalam perjanjian kerjasama ini dicantumkan hak-hak dan
kewajiban dari masing – masing pihak maka dibuatkan suatu nota perjanjian
kesepakatan yang dibuat berdasarkan kesepakatan bersama antara lain :
- Kewajiban Perusahaan Eksportir
- Melakukan pengawasan terhadap cara panen dan pengelolaan pasca panen untuk mencapai mutu rumput laut yang tinggi.
- Melakukan pembelian produksi rumput laut dari wirausahawan.
- Kewajiban petani atau tenaga kerja :
§ Menggunakan sarana yang sudah disediakan,
§ Bertanggung jawab atas semua kegiatan yang
dilaksanakan di lapangan,
§ Wajib melapor segala hal yang terjadi
dalam bentuk lisan maupun tulisan.
§ Pada saat penjualan hasil, petani/nelayan
akan menerima harga pembayaran upah sesuai dengan hasil prsoduksi dengan sistem
bagi hasil antara wirausaha dan tenaga kerja sebesar 60 : 40.
BAB V
PENUTUP
Demikian proposal bantuan
paket dana ini kami buat dan disampaikan kepada pemberi dana (hibah) sebagai
bahan pertimbangan guna penetapan calon penerima paket bantuan untuk usaha
budidaya rumput laut.
MODEL
KELAYAKAN PROYEK KEMITRAAN (MK PKT) BUDIDAYA RUMPUT LAUT
TABEL 1. ANALISA BIAYA PROYEK UNTUK 35
UNIT RAKIT APUNG UKURAN 7 X 7 METER
|
NO
|
KOMPONEN ANALISA
BIAYA PROYEK
|
UNIT
|
SATUAN
|
HARGA/UNIT
(Rp)
|
JUMLAH
P 1
|
JUMLAH
P 2
|
JUMLAH
P 3
|
JUMLAH
P 4
|
JUMLAH
P 5
|
JUMLAH
P 6
|
TOTAL
|
|
I
|
INVESTASI
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1
|
Rakit Apung
|
35
|
unit
|
491800
|
17215000
|
0
|
2600000
|
0
|
0
|
2600000
|
22415000
|
|
2
|
Bibit (E. Cottoni)
|
25200
|
kg
|
1000
|
2520000
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
2520000
|
|
3
|
Tempat dan alat penjemuran
|
3
|
unit
|
1000000
|
3000000
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
3000000
|
|
4
|
Long Boat dengan mesin ketinting
|
1
|
unit
|
6000000
|
6000000
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
6000000
|
|
5
|
Rumah tunggu
|
2
|
unit
|
2500000
|
5000000
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
5000000
|
|
II
|
TOTAL
BIAYA INVESTASI
|
|
|
|
33740000
|
0
|
2600000
|
0
|
0
|
2600000
|
38940000
|
|
III
|
TENAGA
KERJA
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
1
|
Upah
untuk 15 pekerja
|
15
|
Org
|
900000
|
18000000
|
18000000
|
13500000
|
13500000
|
18000000
|
18000000
|
94500000
|
|
IV
|
TOTAL
BIAYA INVESTASI
|
|
|
|
18000000
|
18000000
|
13500000
|
13500000
|
18000000
|
18000000
|
94500000
|
|
V
|
TOTAL BIAYA PROYEK/ PERIODE
|
|
|
13491800
|
51740000
|
18000000
|
16100000
|
13500000
|
18000000
|
20600000
|
133440000
|
|
VI
|
TOTAL
BIAYA PROYEK / TAHUN
|
Rp. 133.440.000
|
|||||||||
Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.
BalasHapusNama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.
Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.
Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.
Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut