Selasa, 25 November 2014

MATERI 2 PERSYARATAN PAKAN ALAMI

Pendahuluan
Pokok bahasan pada bab ini menjelaskan tentang syarat-syarat yang diperlukan agar suatu organisme dapat digunakan sebagai pakan alami dan pertimbangan-pertimbangan dalam memilih jasad pakan alami dalam membudidayakan organisme perairan tertentu.

Pemahaman materi dalam bab II ini bermanfaat untuk melengkapi pengetahuan mahasiswa dalam memilih organisme pakan alami untuk digunakan dalam budidaya perairan karena tidak semua organisme dapat digunakan sebagai pakan alami dan sama kualitas dalam mendukung pertumbuhan organisme budidaya.

Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari materi pada bab ini, mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan persyaratan agar suatu species dapat dijadikan sebagai pakan alami dan pertimbangan-pertimbangan dalam memilih jenis pakan alami yang tepat untuk digunakan dalam budidaya berbagai organisme perairan.

Indikator
Mahasiswa mampu:
  1. Menjelaskan persyaratan sebagai pakan alami
  2. Mengidentifikasi kandungan nutrisi organisme pakan alami yang digunakan dalam budidaya perairan.





Persyaratan sebagai pakan alami
Pakan alami berbagai species ikan dan non ikan terdiri dari berbagai jenis fitoplankton dan zooplankton yang terdapat secara melimpah di alam. Proses untuk mendapatkan pakan alami yang sesuai bagi organisme budidaya memerlukan serangkaian penelitian yang panjang dan dilakukan secara berulang dengan menggunakan kajian ilmiah yang memerlukan waktu dan biaya yang cukup mahal guna mendapatkan hasil yang akurat. 

Beberapa kriteria untuk menyeleksi sumber pakan bagi larva yang ditinjau dari aspek kebutuhan bagi larva budidaya maupun pembudidaya diberikan oleh Leger and Sargeloos, 1992 sebagai berikut:
 


















Gambar 3. Beberapa kriteria untuk menyeleksi sumber pakan bagi larva yang ditinjau dari aspek kebutuhan bagi larva budidaya maupun pelaku budidaya (Leger and Sargeloos, 1992).

Dari sudut pandang pelaku budidaya ketersediaan sejumlah organisme pakan alami secara konsisten merupakan hal yang sangat penting guna menjamin kelangsungan kegiatan budidaya. Sehingga pengumpulan dan pemberian pakan alami yang diambil langsung dari alam menjadi tidak dapat diandalkan dan menjadi tidak praktis.  Untuk itu diperlukan adanya produksi sejumlah organisme pakan alami dari laboratorium seperti Chaetoceros calcitrans, Pavlova lutheri, Artemia salina dan rotifera.

Kriteria kedua yaitu efektifitas biaya (cost-effectivity) yaitu pengaruh biaya pakan terhadap biaya produksi larva.  Sehingga pemilihan jenis pakan alami yang cepat tumbuh dan bernutrisi dan mengoptimalkan prosedur kultur serta penggunaan pakan alternatif yang efektif menjadi hal yang direkomendasikan.

Aspek berikutnya adalah kesederhanaan dalam memproduksi pakan.  Bila suatu organisme pakan alami dapat diproduksi dengan prosedur yang sederhana dan praktis dengan biaya yang  relatif murah dan mudah dalam pengelolaannya akan sangat baik untuk dibudidayakan.   

Faktor ketiga adalah pemilihan plankton yang memiliki toleransi yang luas terhadap berbagai faktor lingkungan akan memberikan kemudahan dalam memproduksi pakan alami. Plankton perlu tersedia secara berkesinambungan secara tepat waktu, tepat jumlah dan dengan kualitas nutrisi yang baik dapat terjamin. Hal lain yang perlu diperhatikan terkait toleransi organisme pakan alami adalah variasi nilai nutrisi plankton pakan alami yang dapat diubah memberikan keuntungan dalam pengelolaan, dimana akan dapat dihasilkan species dengan komposisi nutrisi yang berbeda sesuai kebutuhan.  Zooplankton dapat digunakan sebagai pembawa (carrier) beberapa nutrisi penting seperti asam lemak, antibiotik sehingga memungkinkan untuk dilakukan peningkatan kualitas nutrisi organisme zooplankton pakan alami tersebut.

Kriteria fisik maupun nutrisi merupakan hal penting yang harus diperhatikan.  Kemurnian atau bebas dari kontaminasi organisme lain merupakan hal yang sangat penting. Kontaminasi oleh debris maupun organisme patogen sangat sulit dikeluarkan dari media budidaya dan sangat mudah ditransfer ke wadah pemeliharaan larva. Selain itu organisme pakan alami harus tidak mengandung bahan racun maupun logam berat, tidak berperan sebagai inang bagi organisme maupun parasit serta tidak menghasilkan racun pada seluruh fase atau siklus hidupnya sehingga tidak membahayakan kehidupan organisme konsumer maupun lingkungan. 

Beberapa species fitoplankton diketahui dapat menghasilkan racun.  Plankton ini bila dimakan oleh kerang-kerangan tidak menimbulkan masalah namun bila dikonsumsi manusia dapat menyebabkan keracunan yang dikenal sebagai Paralytic Shellfish Poisoning (PSP), antara lain disebabkan oleh dinoflagellata Gymnodinium catenatum, Pyrodinium bahamense var. compressum.  Ada juga yang disebut Diarrhetic Shellfish Poisoning (DSP) yang diakibatkan oleh beberapa dinoflagellata dari genus Dinophysis dan Prorocentrum lima.  Ada yang tidak beracun namun secara fisik mengganggu sistim pernapasan avertebrata dan ikan karena penyumbatan terutama pada saat kepadatan plankton tersebut tinggi, misalnya Chaetoceros convolutus, Heterosigma akashiwo, dll, seperti yang dikutip dari Romomohtarto dan Juwana, 2007. 

Faktor fisik lainnya adalah ketersediaan organisme pakan alami dalam kolom air untuk dimangsa. Kebanyakan organisme pakan tetap berada dalam kolom air karena kemampuan renangnya.  Organisme pakan alami diterima oleh predator tergantung dari beberapa faktor yaitu pergerakan serta warna yang kontras dengan lingkungan. Sifat pakan alami yang bergerak, tetapi tidak terlalu aktif dapat merangsang dan mempermudah ikan untuk memangsanya. Organisme pakan alami sebaiknya tidak memiliki dinding sel yang tebal sehingga sulit untuk dicerna.

Dari aspek kebutuhan energi, ukuran organisme pakan yang sesuai dengan bukaan mulut larva atau ikan akan mengoptimalkan aktifitas dan jumlah biomassa jasad pakan yang dimakan.  Apabila pakan dengan ukuran terlalu kecil dibanding dengan bukaan mulut, dengan aktifitas yang sama maka jumlah biomassa jasad pakan yang dimakan akan rendah. 

Kandungan nutrisi pakan alami yang digunakan dalam kegiatan budidaya
Dewasa ini terdapat berbagai jenis organisme pakan alami yang telah berhasil dibudidayakan di berbagai negara di dunia untuk digunakan dalam sistem budidaya intensif, termasuk di dalamnya diatom, dinoflagelata, artemia, kopepoda, dll.  Nilai nutrisi plankton sebagai pakan alami tergantung dari komposisi biokmia dimana nilai tersebut bervariasi antara jenis plankton.  Nilai nutrisi fitoplankton juga bervariasi antara species yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan budidaya seperti intensitas cahaya, suhu, salinitas, dan lain-lain.  Sedangkan nilai nutrisi zooplankton banyak dipengaruhi oleh pakan yang digunakan untuk budidaya zooplankton tersebut. 

Kandungan nutrisi fitoplankton
Secara umum komposisi biokimia atau kandungan nutrisi fitoplankton adalah protein, karbohidrat, lipid atau lemak dan mineral, yang membentuk hingga 90‑95% berat kering darl suatu sel fitoplankton.  Fitoplankton dari klas yang berbeda memiliki kandungan protein, karbohidrat dan lemak yang berbeda pula (Tabel 2.1).

Nilai nutrisi protein ditentukan oleh kandungan dan ketersediaan asam amino‑asam amino pembentuknya. Enright et al. (1986a) yang melakukan penelitian dengan menggunakan Isochrysis sp clone T-ISO, Chaetoceros calcitrans dan Skeletonema costatum serta Epifanio et al. (1981) yang menggunakan Phaeodactylum tricornutum dan Thalassiosira pseudonana melaporkan bahwa proporsi individu‑individu asam amino tidak berbeda antara species fitoplankton. Brown (1991) yang melaporkan bahwa kandungan asam amino beberapa fitoplankton (yang telah diuji) dari klas yang berbeda memiliki banyak persamaan komposisi sehingga tidak ada perbedaan spesifik antar klas fitoplankton.

Tabel 2. 1  Komposisi biokimia (% berat kering) beberapa species fitoplankton

Species
Protein
Karbohidrat
Lemak
Mineral
Total
Pustaka
Prymnesiophycea
Isochrysis sp
44
9
25
9
87
Whyte,1987
I. galbana
41
5
21
13
80
Whyte,1987
Pavlova lutheri
49
31
12
6
98
Parson et al.,1961
Bacillariophyceae
Chaetoceros
calcitrans
33
17
10
29
89
Utting,1986
Paeodactylum
tricornutum
33
24
10
8
75
Parson et al.,1961
Thalassiosira
pseudonana
29
17
10
38
94
Whyte,1987
Prasinophyceae
Tetraselmis
suceica
39
8
7
23
77
Whyte,1987

Beberapa gula utama adalah glucosa, galaktosa, manosa, ribosa yang bervariasi dalarn proporsinya.

Asam lemak dilaporkan sebagai salah satu faktor penting pada pakan yang menentukan pertumbuhan organisme (Enright et al., 1986a; Gallager et al., 1986) disamping level asam amino, karbohidrat, vitamin dan mineral (Brown, 1991) dan faktor-faktor non‑nutrisi seperti toksin (Webb and Chu, 1983). Asam lemak diketahui sebagai sumber energi yang dibutuhkan untuk mensintesa metabolit‑metabolit khusus yang penting untuk pertumbuhan hewan serta untuk fungsi‑fungsi normal membran sel. Banyak organisme akuatik diyakini membutuhkan pakan yang mengandung asam lemak tak jenuh tertentu terutama pada tahap‑tahap larvae disebabkan keterbatasan hewan‑hewan tersebut mensintosa asam lemak tertentu yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan kehidupan (Watanabe et al., 1983).  PUFA (Polyunsaturated fatty acids, asam lemak tak jenuh) 20:5w3 dan 22:6w3 sering dilaporkan sebagai asam lemak yang sangat dibutuhkan oleh larva maupun organisme dewasa karena kebanyakan organisme tidak mampu untuk memproduksi asam lemak tersebut dalam jumlah yang mencukupi kebutuhannya (Webb and Chu, 1983). Diatom, eustigmatophyta, cryptomonad, rhodophyte dan beberapa prymnesiophyte species seperti Pavlova spp merupakan sumber yang kaya akan 20:5w3 (Volkman et al., 1993). Beberapa species dari klas tersebut telah sukses digunakan sebagai pakan dalam budidaya larvae bivalve (Brown et al., 1989). Prymnesiophyte juga relatif kaya akan 22:6w3 sedangkan eustigmatophyte, rhodophyte dan diatom juga kaya akan 20:4w6. Chlorophyte umumnya tidak kaya akan PUFA C20 dan C22.

Kadar mineral yang dimiliki fitoplankton bervariasi antara 6-39%.  Komponen mineral yang berpengaruh adalah kalsium, fosfat, kalium, klor, ferum, mangan, zinc, magnesium, kobalt dan cuprum (Brown et al., 1989).  Walaupun kebutuhan organisme budidaya akan mineral sangat kecil presentasenya dibandingkan kebutuhan nutrien lainnya, namun mengingat banyaknya fungsi mineral terhadap berlangsungnya proses kehidupan organisme budidaya seperti untuk pembentukan tulang serta metabolisme, maka kebutuhan akan mineral harus dipenuhi.  

Kandungan nutrisi Zooplankton
Kandungan nutrisi zooplankton secara umum seperti yang diwakili oleh Dapnia sp, artemia, rotifer dan Moina terdiri dari protein, lemak dan karbohidrat (Tabel 2.2).  Nilai nutrisi zooplankton banyak dipengaruhi oleh pakan yang digunakan untuk budidaya zooplankton tersebut seperti yang dilaporkan oleh beberapa penelitian dirangkum oleh Isnansetyo dan Kurniastuty (1995) yang menggunakan rotifera (B. plicatilis), Daphnia sp, dan Moina sp yang diberi pakan fitoplankton, ragi dan kotoran ayam (Tabel 2.2).

Tabel 2.2  Kandungan nutrisi zooplankton (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995).
Organisme
Protein
Lemak
Karbohidrat
Abu
Pigmen
Air
Serat kasar
NFE
B. plicatilis
Ragi
7.20
2.30
-
-
0.40
-
89.60
Ragi + Chorella
7.90
2.30
-
-
0.40
-
89.10
Chlorella
7.80
3.80
-
-
0.50
-
89.60
I.galbana
30.00
11.00
-
10
-
-

P.tricornutum
51.00
9.00

14
-
-


Daphnia
7.50
1.40
-
-
0.70
-
89.30

Moina
Ragi
8.80
2.90
-
-
-
-
87.20
Ragi+kotoran ayam
8.60
1.30
-
-
-
-
89.00
Kotoran ayam
8.20
3.30
-
-
-
-
87.90


RANGKUMAN
·         Agar dapat digunakan sebagai pakan alami, suatu organisme harus memenuhi berbagai kriteria baik dari aspek fisik dan biologi, aspek nutrisi maupun aspek pengelolaan.
·         Secara umum, pakan alami memiliki kandungan nutrisi yang dapat dikelompokkan atas protein, karbohidrat, dan lemak dimana kandungan proksimat nutrisi ini dapat berubah berdasarkan kondisi lingkungan budidaya serta pakan yang dikonsumsi.
 
EVALUASI
1.      Sebutkan dan jelaskan hal yang harus dimiliki oleh suatu organisme agar dapat dijadikan pakan alami.
2.    Jenis nutrisi apa saja yang perlu dimiliki suatu organisme pakan alami tersebut dan apa fungsinya.
 
 

















DAFTAR PUSTAKA
Isnansetyo, A. dan Kurniastuty, 1995.  Teknik kultur fitoplankton dan zooplankton; pakan alami untuk pembenihan organisme laut.  Penerbit Kanisius, Yogyakarta.  Hal 13-33.
Leger, P.  And P. Sorgeloos, 1992.  Optimezed feeding regimes in shrimps hatcheries. In Fast A.W. and L.J. Lesters, 1992.  Marine shrimps culture: priciples and practices.  Elsevier Science Publisher. Page 225-244.
Pillay, T.V.R., 2001. Aquaculture; principles and practices. Fishing News Book.  Oxford.  Hal 106-120.
Enright, C.T., G.F., Newkirk, LS. Craigie, and J.D. Castell, 1986a. Evaluation of phytoplankton as diets for juvenile Ostrea edulis L. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology 96, 1‑13.
Enright, C.T., G.F. Newkirk, LS. Craigie, and J.D. Castell, 1986b. Growth of juvenile Ostrea edulis L. fed Chaetoceros gracilis Schutt of varied chemical composition. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology 96, 15‑26.
Harefa, F., 2000. Pembudidayaan artemia untuk pakan udang dan ikan.  Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta. Hal 20-21.
Parsons, T.R., Stephens, K. and Strickland, J.H.D., 1961. On the chemical composition of eleven species of marine phytoplankters. Journal of Fish Research Board of Canadian 35: 119‑128.

Webb, K.L. and F.L. Chu, 1983. Phytoplankton as a food source for bivalve larvae, hlm.272‑291. Di dalarn Biochemical and Physiological Approaches to Shellfish Nutrition. Proceedings on the Second International Conference on Aquaculture Nutrition, Lousiana State University Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar