Pendahuluan
Pokok bahasan pada bab ini menjelaskan tentang
syarat-syarat yang diperlukan agar suatu organisme dapat digunakan sebagai
pakan alami dan pertimbangan-pertimbangan dalam memilih jasad pakan alami dalam
membudidayakan organisme perairan tertentu.
Pemahaman materi dalam bab II ini bermanfaat untuk
melengkapi pengetahuan mahasiswa dalam memilih organisme pakan alami untuk
digunakan dalam budidaya perairan karena tidak semua organisme dapat digunakan
sebagai pakan alami dan sama kualitas dalam mendukung pertumbuhan organisme
budidaya.
Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari materi pada bab ini, mahasiswa
diharapkan dapat menjelaskan persyaratan agar suatu species dapat dijadikan
sebagai pakan alami dan pertimbangan-pertimbangan dalam memilih jenis pakan
alami yang tepat untuk digunakan dalam budidaya berbagai organisme perairan.
Indikator
Mahasiswa mampu:
- Menjelaskan
persyaratan sebagai pakan alami
- Mengidentifikasi
kandungan nutrisi organisme pakan alami yang digunakan dalam budidaya
perairan.
Persyaratan sebagai pakan alami
Pakan alami berbagai species ikan dan non ikan
terdiri dari berbagai jenis fitoplankton dan zooplankton yang terdapat secara
melimpah di alam. Proses untuk mendapatkan pakan alami yang sesuai bagi
organisme budidaya memerlukan serangkaian penelitian yang panjang dan dilakukan
secara berulang dengan menggunakan kajian ilmiah yang memerlukan waktu dan
biaya yang cukup mahal guna mendapatkan hasil yang akurat.
Beberapa kriteria untuk menyeleksi
sumber pakan bagi larva yang ditinjau dari aspek kebutuhan bagi larva budidaya
maupun pembudidaya diberikan oleh Leger and Sargeloos, 1992 sebagai berikut:
Gambar 3. Beberapa kriteria untuk menyeleksi sumber pakan bagi
larva yang ditinjau dari aspek kebutuhan bagi larva budidaya maupun pelaku budidaya
(Leger and Sargeloos, 1992).
Dari sudut pandang pelaku budidaya ketersediaan
sejumlah organisme pakan alami secara konsisten merupakan hal yang sangat
penting guna menjamin kelangsungan kegiatan budidaya. Sehingga pengumpulan dan
pemberian pakan alami yang diambil langsung dari alam menjadi tidak dapat
diandalkan dan menjadi tidak praktis.
Untuk itu diperlukan adanya produksi sejumlah organisme pakan alami dari
laboratorium seperti Chaetoceros
calcitrans, Pavlova lutheri, Artemia salina dan rotifera.
Kriteria kedua yaitu efektifitas biaya (cost-effectivity)
yaitu pengaruh biaya pakan terhadap biaya produksi larva. Sehingga pemilihan jenis pakan alami yang
cepat tumbuh dan bernutrisi dan mengoptimalkan prosedur kultur serta penggunaan
pakan alternatif yang efektif menjadi hal yang direkomendasikan.
Aspek berikutnya adalah kesederhanaan dalam memproduksi
pakan. Bila suatu organisme pakan alami
dapat diproduksi dengan prosedur yang sederhana dan praktis dengan biaya
yang relatif murah dan mudah dalam
pengelolaannya akan sangat baik untuk dibudidayakan.
Faktor ketiga adalah pemilihan plankton yang
memiliki toleransi yang luas terhadap berbagai faktor lingkungan akan
memberikan kemudahan dalam memproduksi pakan alami. Plankton perlu tersedia
secara berkesinambungan secara tepat waktu, tepat jumlah dan dengan kualitas
nutrisi yang baik dapat terjamin. Hal lain yang perlu diperhatikan terkait
toleransi organisme pakan alami adalah variasi nilai nutrisi plankton pakan
alami yang dapat diubah memberikan keuntungan dalam pengelolaan, dimana akan
dapat dihasilkan species dengan komposisi nutrisi yang berbeda sesuai
kebutuhan. Zooplankton dapat digunakan
sebagai pembawa (carrier) beberapa nutrisi penting seperti asam lemak,
antibiotik sehingga memungkinkan untuk dilakukan peningkatan kualitas nutrisi
organisme zooplankton pakan alami tersebut.
Kriteria fisik maupun nutrisi merupakan hal
penting yang harus diperhatikan.
Kemurnian atau bebas dari kontaminasi organisme lain merupakan hal yang
sangat penting. Kontaminasi oleh debris maupun organisme patogen sangat sulit
dikeluarkan dari media budidaya dan sangat mudah ditransfer ke wadah
pemeliharaan larva. Selain itu organisme pakan alami harus tidak mengandung
bahan racun maupun logam berat, tidak berperan sebagai inang bagi organisme
maupun parasit serta tidak menghasilkan racun pada seluruh fase atau siklus
hidupnya sehingga tidak membahayakan kehidupan organisme konsumer maupun
lingkungan.
Beberapa species fitoplankton diketahui dapat
menghasilkan racun. Plankton ini bila
dimakan oleh kerang-kerangan tidak menimbulkan masalah namun bila dikonsumsi
manusia dapat menyebabkan keracunan yang dikenal sebagai Paralytic Shellfish
Poisoning (PSP), antara lain disebabkan oleh dinoflagellata Gymnodinium catenatum, Pyrodinium bahamense var. compressum. Ada juga yang disebut Diarrhetic Shellfish
Poisoning (DSP) yang diakibatkan oleh beberapa dinoflagellata dari genus Dinophysis dan Prorocentrum lima. Ada yang
tidak beracun namun secara fisik mengganggu sistim pernapasan avertebrata dan
ikan karena penyumbatan terutama pada saat kepadatan plankton tersebut tinggi,
misalnya Chaetoceros convolutus, Heterosigma akashiwo, dll, seperti yang
dikutip dari Romomohtarto dan Juwana, 2007.
Faktor fisik lainnya adalah ketersediaan organisme
pakan alami dalam kolom air untuk dimangsa. Kebanyakan organisme pakan tetap
berada dalam kolom air karena kemampuan renangnya. Organisme pakan alami diterima oleh predator
tergantung dari beberapa faktor yaitu pergerakan serta warna yang kontras
dengan lingkungan. Sifat pakan alami yang bergerak, tetapi tidak terlalu aktif
dapat merangsang dan mempermudah ikan untuk memangsanya. Organisme pakan alami
sebaiknya tidak memiliki dinding sel yang tebal sehingga sulit untuk dicerna.
Dari aspek kebutuhan energi, ukuran organisme pakan
yang sesuai dengan bukaan mulut larva atau ikan akan mengoptimalkan aktifitas
dan jumlah biomassa jasad pakan yang dimakan.
Apabila pakan dengan ukuran terlalu kecil dibanding dengan bukaan mulut,
dengan aktifitas yang sama maka jumlah biomassa jasad pakan yang dimakan akan
rendah.
Kandungan nutrisi pakan alami yang digunakan dalam kegiatan budidaya
Dewasa ini terdapat berbagai jenis organisme pakan
alami yang telah berhasil dibudidayakan di berbagai negara di dunia untuk
digunakan dalam sistem budidaya intensif, termasuk di dalamnya diatom,
dinoflagelata, artemia, kopepoda, dll. Nilai
nutrisi plankton sebagai pakan alami tergantung dari komposisi biokmia dimana
nilai tersebut bervariasi antara jenis plankton. Nilai nutrisi fitoplankton juga bervariasi antara
species yang dipengaruhi oleh kondisi lingkungan budidaya seperti intensitas
cahaya, suhu, salinitas, dan lain-lain.
Sedangkan nilai nutrisi zooplankton banyak dipengaruhi oleh pakan yang
digunakan untuk budidaya zooplankton tersebut.
Kandungan nutrisi fitoplankton
Secara umum komposisi biokimia
atau kandungan nutrisi fitoplankton adalah protein, karbohidrat, lipid atau
lemak dan mineral, yang membentuk hingga 90‑95% berat kering darl suatu sel
fitoplankton. Fitoplankton dari klas
yang berbeda memiliki kandungan protein, karbohidrat dan lemak yang berbeda
pula (Tabel 2.1).
Nilai nutrisi protein ditentukan oleh kandungan
dan ketersediaan asam amino‑asam amino pembentuknya. Enright et al.
(1986a) yang melakukan penelitian dengan menggunakan Isochrysis sp clone
T-ISO, Chaetoceros calcitrans dan Skeletonema costatum serta
Epifanio et al. (1981) yang menggunakan Phaeodactylum tricornutum
dan Thalassiosira pseudonana melaporkan bahwa proporsi individu‑individu
asam amino tidak berbeda antara species fitoplankton. Brown (1991) yang
melaporkan bahwa kandungan asam amino beberapa fitoplankton (yang telah diuji)
dari klas yang berbeda memiliki banyak persamaan komposisi sehingga tidak ada
perbedaan spesifik antar klas fitoplankton.
Tabel 2. 1 Komposisi biokimia (% berat kering) beberapa
species fitoplankton
|
Species
|
Protein
|
Karbohidrat
|
Lemak
|
Mineral
|
Total
|
Pustaka
|
|
Prymnesiophycea
|
||||||
|
Isochrysis sp
|
44
|
9
|
25
|
9
|
87
|
Whyte,1987
|
|
I. galbana
|
41
|
5
|
21
|
13
|
80
|
Whyte,1987
|
|
Pavlova lutheri
|
49
|
31
|
12
|
6
|
98
|
Parson et al.,1961
|
|
Bacillariophyceae
|
||||||
|
Chaetoceros
calcitrans
|
33
|
17
|
10
|
29
|
89
|
Utting,1986
|
|
Paeodactylum
tricornutum
|
33
|
24
|
10
|
8
|
75
|
Parson et al.,1961
|
|
Thalassiosira
pseudonana
|
29
|
17
|
10
|
38
|
94
|
Whyte,1987
|
|
Prasinophyceae
|
||||||
|
Tetraselmis
suceica
|
39
|
8
|
7
|
23
|
77
|
Whyte,1987
|
Beberapa gula utama adalah glucosa, galaktosa,
manosa, ribosa yang bervariasi dalarn proporsinya.
Asam lemak dilaporkan sebagai salah satu faktor
penting pada pakan yang menentukan pertumbuhan organisme (Enright et al.,
1986a; Gallager et al., 1986) disamping level asam amino, karbohidrat,
vitamin dan mineral (Brown, 1991) dan faktor-faktor non‑nutrisi seperti toksin
(Webb and Chu, 1983). Asam lemak diketahui sebagai sumber energi yang
dibutuhkan untuk mensintesa metabolit‑metabolit khusus yang penting untuk
pertumbuhan hewan serta untuk fungsi‑fungsi normal membran sel. Banyak
organisme akuatik diyakini membutuhkan pakan yang mengandung asam lemak tak
jenuh tertentu terutama pada tahap‑tahap larvae disebabkan keterbatasan hewan‑hewan
tersebut mensintosa asam lemak tertentu yang dibutuhkan untuk pertumbuhan dan
kehidupan (Watanabe et al., 1983).
PUFA (Polyunsaturated fatty acids, asam lemak tak jenuh) 20:5w3 dan 22:6w3 sering dilaporkan sebagai asam lemak yang sangat
dibutuhkan oleh larva maupun organisme dewasa karena kebanyakan organisme tidak
mampu untuk memproduksi asam lemak tersebut dalam jumlah yang mencukupi
kebutuhannya (Webb and Chu, 1983). Diatom, eustigmatophyta, cryptomonad,
rhodophyte dan beberapa prymnesiophyte species seperti Pavlova spp merupakan sumber yang kaya akan 20:5w3 (Volkman et
al., 1993). Beberapa
species dari klas tersebut telah sukses digunakan sebagai pakan dalam budidaya
larvae bivalve (Brown et al., 1989).
Prymnesiophyte juga relatif kaya akan 22:6w3 sedangkan eustigmatophyte, rhodophyte dan diatom
juga kaya akan 20:4w6. Chlorophyte umumnya tidak kaya akan PUFA C20 dan C22.
Kadar mineral yang dimiliki fitoplankton
bervariasi antara 6-39%. Komponen
mineral yang berpengaruh adalah kalsium, fosfat, kalium, klor, ferum, mangan,
zinc, magnesium, kobalt dan cuprum (Brown et
al., 1989). Walaupun kebutuhan
organisme budidaya akan mineral sangat kecil presentasenya dibandingkan
kebutuhan nutrien lainnya, namun mengingat banyaknya fungsi mineral terhadap
berlangsungnya proses kehidupan organisme budidaya seperti untuk pembentukan
tulang serta metabolisme, maka kebutuhan akan mineral harus dipenuhi.
Kandungan nutrisi Zooplankton
Kandungan nutrisi zooplankton secara umum seperti
yang diwakili oleh Dapnia sp,
artemia, rotifer dan Moina terdiri dari protein, lemak dan karbohidrat (Tabel 2.2).
Nilai nutrisi zooplankton banyak
dipengaruhi oleh pakan yang digunakan untuk budidaya zooplankton tersebut
seperti yang dilaporkan oleh beberapa penelitian dirangkum oleh Isnansetyo dan
Kurniastuty (1995) yang menggunakan rotifera (B. plicatilis), Daphnia sp, dan Moina sp yang diberi pakan fitoplankton, ragi dan kotoran ayam (Tabel
2.2).
Tabel 2.2 Kandungan nutrisi zooplankton (Isnansetyo dan
Kurniastuty, 1995).
|
Organisme
|
Protein
|
Lemak
|
Karbohidrat
|
Abu
|
Pigmen
|
Air
|
|||
|
Serat kasar
|
NFE
|
||||||||
|
B. plicatilis
|
|||||||||
|
Ragi
|
7.20
|
2.30
|
-
|
-
|
0.40
|
-
|
89.60
|
||
|
Ragi + Chorella
|
7.90
|
2.30
|
-
|
-
|
0.40
|
-
|
89.10
|
||
|
Chlorella
|
7.80
|
3.80
|
-
|
-
|
0.50
|
-
|
89.60
|
||
|
I.galbana
|
30.00
|
11.00
|
-
|
10
|
-
|
-
|
|
||
|
P.tricornutum
|
51.00
|
9.00
|
|
14
|
-
|
-
|
|
||
|
|
|||||||||
|
Daphnia
|
7.50
|
1.40
|
-
|
-
|
0.70
|
-
|
89.30
|
||
|
|
|||||||||
|
Moina
|
|||||||||
|
Ragi
|
8.80
|
2.90
|
-
|
-
|
-
|
-
|
87.20
|
||
|
Ragi+kotoran ayam
|
8.60
|
1.30
|
-
|
-
|
-
|
-
|
89.00
|
||
|
Kotoran ayam
|
8.20
|
3.30
|
-
|
-
|
-
|
-
|
87.90
|
||
|
||
|
DAFTAR PUSTAKA
Isnansetyo,
A. dan Kurniastuty, 1995. Teknik kultur
fitoplankton dan zooplankton; pakan alami untuk pembenihan organisme laut. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Hal 13-33.
Leger,
P. And P. Sorgeloos, 1992. Optimezed feeding regimes in shrimps
hatcheries. In Fast A.W. and L.J. Lesters, 1992. Marine shrimps culture: priciples and
practices. Elsevier Science Publisher.
Page 225-244.
Pillay, T.V.R., 2001. Aquaculture; principles and
practices. Fishing News Book. Oxford . Hal 106-120.
Enright,
C.T., G.F., Newkirk, LS. Craigie, and J.D. Castell, 1986a. Evaluation of
phytoplankton as diets for juvenile Ostrea
edulis L. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology 96, 1‑13.
Enright,
C.T., G.F. Newkirk, LS. Craigie, and J.D. Castell, 1986b. Growth of juvenile Ostrea edulis L. fed Chaetoceros gracilis Schutt of varied
chemical composition. Journal of Experimental Marine Biology and Ecology 96, 15‑26.
Harefa,
F., 2000. Pembudidayaan artemia untuk pakan udang dan ikan. Penerbit Penebar Swadaya, Jakarta. Hal 20-21.
Parsons, T.R., Stephens, K. and Strickland,
J.H.D., 1961. On the chemical composition of eleven species of marine
phytoplankters. Journal of Fish Research Board of Canadian 35: 119‑128.
Webb,
K.L. and F.L. Chu, 1983. Phytoplankton as a food source for bivalve larvae, hlm.272‑291.
Di dalarn Biochemical and Physiological
Approaches to Shellfish Nutrition.
Proceedings on the Second International Conference on Aquaculture Nutrition,
Lousiana State University Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar