Pendahuluan
Teknik budidaya pakan alami merupakan suatu
rangkaian mekanisme operasional yang diterapkan untuk menghasilkan atau
mengembangkan organisme pakan alami sebagai output. Teknik budidaya pakan alami
harus didasarkan pada pengetahuan biologi dan kimiawi dari masing-masing jenis
organisme pakan alami.
Pokok bahasan pada bab ini menjelaskan tentang
aspek biologi beberapa organisme pakan alami yang telah digunakan dalam
budidaya perairan. Materi ini diharapkan bermanfaat untuk melengkapi pengetahuan
mahasiswa dalam memilih organisme pakan alami yang tepat untuk budidaya
organisme perairan tertentu.
Kompetensi Dasar
Setelah mempelajari materi pada bab ini, mahasiswa
diharapkan dapat menjelaskan aspek biologi organisme pakan alami agar berhasil
dibudidayakan.
Indikator
Mahasiswa mampu:
1.
Menjelaskan pertimbangan umum aspek biologi organisme pakan alami
2.
Mengidentifikasi beberapa jenis organisme pakan alami dari golongan
fitoplankton.
3.
Mengidentifikasi beberapa jenis organisme pakan alami dari golongan
zooplankton.
Aspek biologi beberapa species pakan alami
Teknik budidaya pakan alami harus didasarkan pada
pengetahuan bologi dan kimiawi dari masing-masing jenis organisme pakan
alami. Aspek biologi dan kimiawi pakan
alami erat kaitannya dengan kegiatan budidaya umumnya yang mencakup ukuran
menurut tahapan stadia dalam pembiakannya, daur hidup, habitat pertumbuhan,
kebiasaan dan cara makan serta unsur hara yang dibutuhkan untuk hidup dan
pertumbuhan serta nilai nutrisinya.
Pengetahuan morfologi dari setiap jenis organisme
pakan alami yang dibudidayakan sangat diperlukan untuk menyesuaikan ukuran dan
bentuk organisme pakan alami yang diproduksi terhadap ikan budidaya yang
diberikan pakan menurut jenis, ukuran dan stadianya.
Daur hidup setiap jenis organisme pakan alami
harus dipahami, terutama perilakunya dan waktu yang diperlukan setiap tahap dan
siklus perlu diketahui untuk menentukan periode budidaya dan saat panen yang
tepat sesuai dengan tuntutan penggunaan dalam kegiatan budidaya. Pengetahuan reproduksi organisme pakan alami
secara rinci perlu dipahami karena akan sangat membantu dalam menentukan teknik
budidaya yang tepat dan produksi yang berkesinambungan.
Habitat lingkungan setiap organisme yang merupakan
pakan alami yang dibudidayakan harus diketahui karena merupakan dasar
untukmenciptakan kondisi lingkungan, habitat dan media yang cocok bagi kegiatan
budidaya-nya, agar dapat mencapai produksi pakan alami yang maksimal.
Kecepatan dan tingkat pertumbuhan pakan alami
merupakan dasar yang dapat menentukan tindak lanjut dalam meraih kualitas
produk akhir pakan alami yang dibudidayakan.
Kebiasaan makan dan cara makan serta unsur hara
yang dibutuhkan organisme pakan alami harus diketahui untuk menentukan pakan
atau komponen pakan yang cocok serta teknik pemberian pakan yang tepat dalam
kegiatan pembudidayaan organisme pakan alami tersebut.
Nilai gizi setiap jenis organisme pakan alami yang
dibudidayakan harus diketahui agar penentuan jenis pakan alami yang akan
dihasilkan dari budidaya akan sesuai dengan kebutuhan gizi konsumennya.
Kriteria organoleptik, fisik dan kimia tertentu
dari setiap jenis organisme pakan alami merupakan indikator untuk mendapatkan
sifat biologi pakan alami yang normal dan diinginkan.
Hingga kini terdapat lebih dari 40 species yang
telah digunakan sebagai pakan alami yang secara luas telah digunakan dalam
industri budidaya larva ikan dan non ikan, dapat digolongkan atas 3 kelompok
yaitu:
1.
berbagai species mikroalgae dengan ukuran 2-20 mm yang digunakan untuk budidaya bivalvia, udang
penaeid, rotifera, kopepoda, ikan.
2.
kelompok 50-200 mm seperti rotifera Brachionus
plicatilis yang digunakan untuk budidaya berbagai jenis udang serta ikan
laut.
3.
kelompok 400-800 mm seperti brine shrimp Artemia
spp (meta-) nauplii untuk berbagai jenis udang serta ikan.
Selain ketiga kelompok utama di atas, terdapat
pula berbagai jenis pakan alami lainnya yang digunakan pada skala yang terbatas
untuk praktek budidaya larva tertentu, seperti Brachionus rubens, Moina
spp, Daphnia dan dekapsulasi cysts
brine shrimp untuk ikan air tawar dan larva udang air tawar, biomassa Artemia untuk larva lobster, post larva
(PL) dan induk udang, serta berbagai juvenil ikan laut.
Aspek biologi organisme pakan alami yang telah
digunakan dalam kegiatan budidaya
disajikan sebagai berikut:
Chlorella sp

Gambar 3.1. Sel Chlorella sp
Divisi : Chlorophyta
Kelas :
Chlorophyceae
Ordo :
Chlorococcales
Famili :
Chlorellaceae
Genus :
Chlorella
Species : Chlorella sp
Chlorella
merupakan salah satu jenis alga hijau, bersel tunggal, berbentuk bulat atau
bulat telur, memiliki kloroplas seperti cawan, dindingnya keras, padat dan
bergaris tengah 5 mm.
Perkembangbiakan Chlorella
terjadi secara aseksual yaitu dengan pembelahan sel atau pemisahan autospora
dari sel induknya.
Isochrysis galbana

Gambar 3.2. Sel I.galbana
Divisi :
Chrysophyta
Kelas :
Haptophyceace
Ordo : Isochrysidales
Family : Isochrysidaceae
Genus : Isochrysis
Species : I. galbana
Isochrysis galbana berbentuk oval hingga elips
dengan 2 flagela berukuran sama panjang dan sangat halus yang disebut haptonema
(Chapman and Chapman, 1973). Ukuran sel berkisar antara 3,5-4 mm, terdiri dari 1 atau 2 kloroplast
Pavlova lutheri

Gambar 3.3. Sel P. lutheri
Phylum : Haptophyta
Klas :
Prymnesiophyceae
Ordo : Pavlovales
Family : Pavlovaceae
Genus : Pavlova
Species : P. calceolata,
P. gyrans,
P. helicata,
P. lutheri,
P. pinguis
P. salina,
P. virescens
Skeletonema costatum
Phylum :
Bacillariophyta
Klas : Bacillariophyceae
Ordo : Bacillariales
Family :
Thalassiosiraceae
Genus : Skeletonema
Species : Skeletonema costatum
Morfologi dan Ukuran
S. costatum
merupakan algae bersel tunggal dengan ukuran antara 4-15 mm. Algae ini dapat membentuk rantai yang terdiri
dari beberapa sel. Sel berbentuk kotak
terdiri atas epiteka pada bagian atas dan hipoteka pada bagian bawah. Bagian
hipoteka memiliki lubang-lubang yang berpola khas dan indah yang terbuat dari
silicon oksida. Setiap sel dipenuhi oleh
sitoplasma. Sel berwarna coklat dan pada
setiap sel memiliki frustula yang dapat menghasilkan skeletal eksternal.
Karatenoid dan diatomin merupakan pigmen yang dominan pada fitoplankton ini.
Ekologi dan Fisiologi
S. costatum
merupakan diatomae yang ersifat eurythermal yang mampu tumbuh pada kisaran suhu
3-30°C. Untuk
pertumbuhan optimal, algae ini membutuhkan kisaran suhu 25-27°C. Pada
kisaran suhu 15-34°C, algae ini masih dapat tumbuh dengan baik. Algae ini bersifat euryhaline dan dapat hidup
di laut, pantai dan muara sungai.
Salinitas optimal untuk pertumbuhannya adalah 25-29 ppt. Pertumbuhan algae ini banyak dipengaruhi oleh
intensitas cahaya. Peningkatan
intensitas cahaya dari 5000-12.000 lux dapat meningkatkan pertumbuhan algae ini
dan akan menurun bila intensitas cahaya melebihi 12.000 lux.
Reproduksi dan Siklus Hidup
Secara normal algae ini bereproduksi secara
aseksual yaitu melalui pembelahan sel.
Pembelahan sel yang terjadi berulang-ulang akan mengakibatkan ukuran sel
menjadi lebih kecil secara berangsur-angsur hingga generasi tertentu. Apabila ukuran sel sudah di bawah 7 mm maka fitoplankton ini akan bereproduksi secara
seksual dengan pembentukan auxospora.
Mula-mula epiteka dan hipoteka ditanggalkan dan
menghasilkan auxospora. Auxospra ini
akan membangun epiteka dan hipoteka baru dan tumbuh menjadi sel yang ukurannya
lebih besar, kemudian melakukan pembelahan sel sehingga membentuk rantai. Auxospora terbentuk pada salinitas 20-35 ppt
dan suhu 20°C.
Intensitas cahaya 4.000-5.000 lux merupakan kisaran optimal untuk
pembentukan auxospora. Auxospora jarang terbentuk pada intensitas cahaya kurang
dari 500 lux.
Rotifer
Rotifer merupakan organisme kultur yang bersifat
planktonik, memiliki kisaran toleransi kondisi lingkungan yang besar, laju
reproduksi yang tinggi (0.7-1.4 anak per induk betina per hari). Juga ukurannya yang kecil dan kecepatan
renang yang lemah menjadikan mereka mangsa yang cocok bagi larva ikan yang baru
selesai menyerap kuning telurnya namun belum dapat memangsa nauplius Artemia
yang berukuran lebih besar. Rotifer juga
dapat dipelihara pada kepadatan sangat tinggi (dapat mencapai 2000 organisme
per ml) dan bereproduksi secara cepat sehingga berkontribusi menghasilkan
sejumlah besar pakan hidup dalam waktu sangat singkat. Sifat filter-feeding rotifer memudahkan
penyerapan berbagai nutrien penting ke dalam jaringan tubuhnya bagi kepentingan
larva pemangsanya (bioenkapsulasi)
Morfologi
Rotifer terdiri dari sekitar 1500 species yang
kebanyakan berenang bebas dan terutama mendiami perairan tawar, disamping
beberapa species mendiami perairan payau dan laut.
Panjang tubuhnya jarang mencapai ukuran 2 mm. Organisme jantan lebih kecil dan kurang
berkembang dibandingkan organisme betina. Tubuh seluruh organisme ini memiliki
jumlah sel yang konstan. Species Brachionus yang berbeda mengandung kira-kira
1000 sel yang harus dipertimbangkan sebagai area plasma. Pertumbuhan organisme ini ditentukan oleh
peningkatan plasma bukan oleh pembelahan sel.
Bagian epidermis mengandung paket lapisan seperti
protein-keratin yang padat yang disebut lorica.
Bentuk lorica dan profil duri-durin serta ornamen-ornamen dipakai untuk
menentukan species dan morfotipe. Tubuh
rotifer dapat dibagi atas 3 bagian yaitu kepala, badan dan kaki. Pada bagian kepala terdapat organ raoary atau
corona yang dengan mudah dikenali dari cilia annular yang merupakan asal mula
pemberian nama Roraria (bearing wheels). The retractable corona menjamin pergerakan dan
perputaran air yang memudahkan pengambilan partikel makanan yang kecil
(terutama algae dan detritus). Tubuh terdiri dari sistem pencernaan, sistem
pembuangan dan organ-organ genital.
Suatu ciri khusus rotifer adalah mastax (yaitu calcified apparatus pada bagian mulut), yang
sangat efektif dalam menghancurkan partikel-partikel yang tertelan. Kaki seperti cincin dengan struktur retractable tanpa segementasi
dan berakhir pada satu atau empat toes.
Gambar 3.4 Rotifera
Biologi
Jangka waktu hidup rotifer diperkirakan antara
3.4-4.4. hari pada suhu 25°C. Umumnya
larva menjadi orgaisme dewasa setelah 0.5-1.5 hari dan organisme betina mulai
bertelur kira-kira setiap empat jam.
Dipercaya bahwa organisme betina dapat menghasilkan sepuluh generasi
sebelum mati.
Siklus hidup Brachionus plicatilis can be closed by dua model
reproduksi (Gambar 3.5). Pada reproduksi betina parthenogenetik, betina amictic
menghasilkan telur-telur amictic (diploid, 2n kromosom) yang berkembang dan
menetas menjadi betina amictic. Pada
kondisi lingkungan tertentu organisme betina beralih ke reproduksi seksual yang
lebih rumit dan menghasilkan betina mictic dan amictic. Meskipun keduanya tidak dapat dibedakan
secara morfologi, betina mictic menghasilkan telur haploid (n kromosom). Larva yang menetas dari telur mictic yang
tidak dibuahi ini berkembang menjadi jantan haploid. Jantan ini berukuran seperempat dari betina;
mereka tidak memiliki sistim pencernaan dan tidak memiliki bladder tetapi
memiliki testis tunggal yang berisi sperma.
Telur-telur mictic yang menetas menjadi jantan berukuran lebih kecil
sedangkan telur-teur mictic yang dibuahi berukuran lebih besar dan memiliki lapisan luar dengan granulasi yang
memudar.

Gambar 3.5 Reproduksi partenogenetik dan
reproduksi seksual Brachionus plicatilis (modified from Hoff and Snell, 1987 dalam
Dhert, 1992).
Perbedaan Strain
Untuk penggunaan dalam kegiatan akuakultur,
klasifikasi yang digunakan didasarkan pada dua morfotipe yang berbeda, yang
disebut Brachionus rotundiformis or small rotifers (S-type; panjang
lorica antara 100-210 mm, rata-rata 160 mm) dan Brachionus plicatilis or
large (L-type) rotifers (panjang lorica
antara 130-340 mm (rata-rata 239 mm), dan S-type berkisar antara 100-210
mm (rata-rata 160 mm).
Pada budidaya tropis SS-type rotifers (Super small
rotifers) lebih disukai untuk first feeding larva ikan dengan bukaan mulut yang
kecil (rabbitfish/ikan samandar?, groupers/kerapu, dan ikan lain dengan bukaan
mulut pada saat mulai makan kurang dari 100 mm). Rotifer ini secara genetik
tidak diisolasi dari S-strains, tetapi lebih kecil dari S-strains yang umum. Morfotipe
rotifer S- dan L- juga berbeda dalam suhu pertumbuhan optimum. Tipe S memiliki suhu pertumbuhan optimum pada
at 28-35°C, sedangkan tipe L mencapai pertumbuhan optimal pada suhu 18-25°C.
Artemia
Artemia
salina merupakan bangsa udang-udangan yang diklasifikasikan sebagai berikut:

Gambar 3.6 Artemia
Phylum : Arthropoda
Kelas : Crustacea
Sub kelas :
Branchiopoda
Ordo : Anostraca
Famili : Artemidae
Genus : Artemia
Species : Artemia salina
Artemia merupakan penghuni
danau-danau air asin. Kemampuan Artemia untuk menghasilkan telur-tlur istirahat
yang disebut Cyst membuatnya digunakan secara luas pada industri
akuakultur. Cyst dapat disimpan untuk
jangka waktu panjang dan ditetaskan sewaktu-waktu sesuai kebutuhan.
Artemia makan dengan
menyaring partikel berukuran 1-40 mm yang terdiri dari fitoplankton, bakteri,
protozoa maupun detritus. Artemia tumbuh pada kisaran
suhu 6-35°C dan pada kisaran salinitas
5-340 ppt menjadikannya sebagai organisme dengan system osmoregulasi yang
efisien. Artemia dewasa rata-rata
berukuran panjang 8 mm dan 1000 mg berat kering meskipun beberapa individu dapat
tumbuh dengan panjang mencapai 20 mm.
Pada kondisi yang favorit (disukai) betina dewasa
menghasilkan telur yang menetas menjadi nauplii yang berenang bebas. Nauplii, pada kondisi yang optimum meliputi
level pakan, salinitas dan suhu, dapat menjadi dewasa dalam 8 hari dan
menghasilkan 300 nauplii setiap 4 hari.
Pada kondisi-kondisi ekstrim seperti tingkat O2
yang rendah atau salinitas di atas 150 ppt, individu betina menghasilkan telur
yang terbungkus “envelope” coklat keras (disebut chorion) yang didalamnya
terdapat embrio yang berkembang hanya sampai tahap gastrula dan memasuki tahap
istirahat atau diapause. Cyst bersifat mengapung dan terbawa ke pantai dan
menjadi kering. Individu betina dapat
menghasilkan hingga 75 cyst per hari.
Strain-strain yang berbeda yang beradaptasi
terhadap kondisi-kondisi yang berbeda seperti suhu dan komposisi ionik
lingkungan menyebabkan adanya perbedaan dalam ukuran, metabolisme penetasan dan
komposisi biokimia cyst.
Perkembangan cyst akan terjadi bila sedikitnya 2
persyaratan dipenuhi yaitu 1), fase diapause harus dihentikan. Hal ini tergantung masing-masing strain dan
dapat dilakukan dengan mekanisme dehidrasi, eksposure terhadap suhu yang rendah
maupun mekanisme lainnya. 2). Setelah
masa diapause dihentikan cyst harus direhidrasi. Selanjutnya perkembangan akan dimulai dan
nauplii akan menetas untuk melengkapi siklus hidupnya.
Cyst sangat resistan dan terdistribusi dengan
bantuan angin dan burung seperti seagulls dan falminggo dengan cara melekat
pada bagian tubuh atau masuk ke saluran pencernaan.

Gambar 3.7 Daphnia (Delbare and Dhert, 1992)
Biologi dan Siklus Hidup
Daphnia merupakan sumber pakan yang digunakan pada
kultur larva air tawar (seperti untuk berbagai species ikan mas) dan pada
industri ikan hias (seperti guppies, sword tails, black mollies and plattys
etc.) Daphnia termasuk suborder Cladocera, yang merupakan udang-udangan kecil
yang hidup secara exclusif di air tawar.
Karapaks membungkus seluruh tubuh, kecuali kepala dan duri apical (bila
ada). The head projects ventrally and somewhat posteriorly in a beak-like
snout. The trunk appendages (lima atau enam pasang) are flattened, seperti
struktur daun yang berfungsi untuk memakan suspensi (filter feeders) dan untuk
pergerakan. Bagian anterior trunk,
postabdomen is turned ventrally and forward and memiliki penjepit khusus dan
duri-duri ntuk membersihkan karapaks.
Species dari genus Daphnia ditemukan pada daerah
tropis hingga ke daerah arctic, pada habitat-habitat yang bervariasi ukurannya
dari kolam kecil hingga danau-danau air tawar yang besar. Kini telah dilaporkan ada sekitar 50 species
Daphnia, dan hanya 6 diantaranya terdapat di daerah dataran rendah tropis.
Ukuran Daphnia dewasa sangat bervariasi; bila
makanan terdapat melimpah, Daphnia bertumbuh sepanjang hidupnya dan dewasa yang
besar dapat memiliki panjang karapaks hingga dua kali individu yang baru mulai
dewasa. Selain perbedaan ukuran, ukuran
relatif kepala dapat berubah dari berbentuk lingkaran hingga berbentuk seperti
helem antara musim semi dan pertengahan musim panas. Dari pertengahan musim panas ke musim gugur
bentuk kepala kembali lagi ke bentuk lingkaran normal. Perbedaan bentuk-bentuk ini disebut “cyclomorphs”
dan dapat dirangsang, seperti pada rotifer, oleh faktor internal, atau dapat
pula sebagai hasil dari interaksi antara genetik dan kondisi-kondisi
lingkungan.
Secara normal ada 4-6 tahap Instar; Daphnia bertumbuh
dari nauplius hingga dewasa melalui serangkaian 4-5 molting, dengan periode
yang tergantung dari suhu (11 hari pada 10°C hingga 2 hari pada 25°C) dan
ketersediaan makanan. Daphnia
bereproduksi melalui partenogenesis cyclical atau obligasi dan populasinya
hampir semua betina. Telur-telur
dihasilkan dalam clutches yang terdiri dari 200 hingga beberapa ratus, dan satu
betina dapat menghasilkan beberapa clutches, yang berhubungan dengan proses
molting. Telur-telur parthenogenesis
dihasilkan secara ameiosis dan menghasilkan individu-individu betina, namun dalam beberapa kasus ada terdapat pula
individu jantan. Pola reproduksi ini
mirip dengan rotifer yang secara normal menghasilkan telur-telur diploid
melalui parthenogenesis. Telur-telur parthenognesis (jumlahnya dapat bervariasi
dari 100-300 dan sebagian besar tergantung dari ukuran induk dan asupan pakan)
diletakkan dalam kantung segera setelah ecdysis dan menetas beberapa saat
sebelum ecdysis berikutnya. Perkembangan
embrio pada cladocera terjadi dalam kanting dan larva yang menetas merupakan
miniatur dari organisme dewasa. Pada
beberapa kasus periode embrionik tidak korespond dengan periode pengeraman, dan ini berarti larva
tetap berada dalam kantung bahkan ketika proses embrionik telah selesai,
dikarenakan ecdysis yang tertunda (faktor-faktor lingkungan). Species yang berbeda periode maturasi sangat
seragam pada suhu tertentu yang berkisar dari 11 hari pada 10°C dan hanya 2 hari pada 25°C.
Faktor-faktor seperti perubahan suhu air atau
kekurangan pakan akibat meningkatnya populasi dapat merangsang dihasilkannya
individu jantan. Individu-individu
jantan ini memiliki 1 atau 2 gonopores, yang membuka dekat anus dan dapat
dimodifikasi menjadi organ copulatori. Individu jantan clasps betina dengan
antennae pertama dan membuat proses kopulatori menjadi single, median gonopore
betina. Telur-telur yang telah dibuahi
berukuran besar dan hanya 2 telur dalam 1 clutch tunggal (satu dari tiap
ovary), dan memiliki cangkang yang keras: telur-telur istirahat
(dormant/resting eggs) ditutupi oleh beberapa membran pelindung yang disebut
ephippium. Dalam bentuk ini, mereka tahan
terhadap desikasi/kekeringan, freexing/pembekuan dan enzim-enzim pencernaan,
dan memegang peranan penting dalam kolonisasi habitat baru atau pembentukan
kembali populasi yang pernah ada setelah mengalami kondisi musiman yang tidak
menguntungkan.
Nilai nutrisi Daphnia sangat tergantung dari
komposisi kimia dari sumber pakannya.
Tetapi karena Daphnia merupakan species air tawar maka Daphnia bukan
organisme mangsa yang sesuai bagi organisme laut, karena kandungan asam lemak
esensial yang rendah, khususnya (n-3) HUFA.
Daphnia mengandung sejumlah enzym pencernaan yang berspektrum luas
seperti proteinase, peptidase, amylase, lipase dan bahkan selulase, yang dapat
bertindak sebagai exo-enzymes pada lambung larva ikan.
Apparatus filtering Daphnia terdiri dari specialized
thoracic appendages untuk mengumpulkan partikel-partikel makanan. Lima thoracic
limbs bertindak sebagai pompa penghisap dan penekan. Pasangan appendages ketiga
dan keempat membawa atau memiliki screen seperti saringan besar yang menyaring
partikel-partikel dari air. Efisiensi
filter tersebut bahkan dapat menyarting bakteri (kira-kira 1µm). Dalam study
tentang kualitas pakan fitoplankton air tawar terhadap produksi cladocerans, ditemukan
bahwa dari algae biru-hijau, flagellates dan algae hijau, Daphnia tumbuh lebih
baik bila diberi pakan cryptomonad, Rhodomonas minuta and Cryptomonas sp., yang
mengandung level HUFA yang tinggi (lebih dari 50% asam lemak kedua algae ini
terdiri dari EPA dan DHA, sedangkan algae hijau dicirikan dengan melimpahnya 18:3n-3).
Ini menunjukkan bahwa PUFA rantai panjang penting untuk pertumbuhan normal dan
reproduksi Daphnia. Mikroflagellata
heteritrofic dan ciliata yang seukuran Paramecium dapat juga digunakan sebagai
pakan Daphnia. Bahkan detritus dan pakan benthic dapat merupakan sumbe pakan
penting, terutama bila konsentrasi makanan berada jauh di bawah titik
tertntu. Dalam hal ini , arus air yang
diakibatkan oleh pergerakan hewan pada bagian dasar mengangkat material yang
akhirnya ditelan. Tampaknya Daphnia merupakan filter feeder yang on selektif
(i.e., mereka tidak membedakan individu partikel makanan berdasarkan rasa), material
terlarut dengan konsentrasi yang tinggi dapat
mengganggu pengambilan partikel makanan.
Moina
Moina termasuk Cladocera dan banyak karakteristik
biologi Daphnia dapat diaplikasikan ke Moina. Moina thrives di kolam-kolam dan
waduk-waduk tetapi terutama menempati kolam-kolam temporer atau
saluran-saluran. Periode untuk mencapai
kematangan reproduksi sekitar 4-5 hari pada suhu 26°C. Pada tahap
matang, karakteristik seksual dimorphic dapat diobservasi melalui ukuan
organisme dan morfologi antennule.
Jantan (0.6-0.9 mm) berukuran lebih kecil dari betina (1.0-1.5 mm) dan
memiliki graspers yang panjang yang digunakan untuk menahan betina sewaktu
kopulasi. Betina yang matang secara
seksual membawa 2 telur yang terbungkus dalam suatu ephippium yang merupakan
bagian dari dorsal exoskeleton.
Penggunaan nematode Panagrellus redivivus sebagai
pakan larvae dilaporkan sukses untuk beberapa species termasuk Crangon
crangon, juvenile king shrimp (Penaeus blebejus), common carp (Cyprinus
carpio) dan silver carp (Hypophthalmichthys molitrix). P.
redivivus merupakan pakan hidup
larva karena ukurannya yang kecil (diameter 50 µm). Juga memiliki profil
asam amino yang mirip dengan Artemia, sedangkan kandungan EPA dan DHA mendekati sepertiga dan bahkan
sama atau sedikit lebih tinggi dibandingkan Artemia. P. redivivus
dapat dikultur sangat sederhana dalam baki yang diisi 70 g terigu (10.8%
protein) per 100 cm2, yang dijaga kelembabannya dengan menyemprotkan
air. Kutur medium ditambahi ragi roti 0.5
g/100 cm2 setiap minggu, yang diharapkan menghambat pertumbuhan
jamur nematophage fungi. Kontainer harus diletakkan pada ruangan berventilasi
pada suhu 20-23°C. Kontaminasi oleh insekta dapat dicegah dengan menutup
kontainer dengan kain. Nematode dapat
dipanen setiap hari selama sekitar 53 hari
menggunakan medium kultur yang sama dengan cara dikeluarkan dari substrat
dengan spatula. Produksi maksimum harian sekitar 75-100 mg per 100 cm2
dapat dicapai pada minggu ke 3. Untuk kultur yang lebih kecil nematode dapat
dipanen dengan menambahkan sejumlah kecil air suling ke dalam baki dan decanting
the suspended nematodes. Nematodes memiliki waktu generasi yang pendek berkisar
dari 5-7 hari dan memiliki fekunditas yang tinggi.
Copepoda
Sejumlah studi elah melaporkan bahwa kopepoda
memiliki nilai nutrisi yang lebih tinggi dibandingkan Artemia, karena
profil nutrisi kopepoda tampaknya lebih match kebutuhan nutrisi larva ikan
laut. Kopepoda juga dapat diberikan
dalam bentuk yang berbeda, sebagai nauplii atau copepodites pada permulaan saat
makan dan sebagai ongrown copepods sampai saat weaning. Juga pergerakan zigzag
yang unik diikuti fase gliding yang pendek, merupakan perangsang visual yang
penting bagi kebanyakan ikan yang lebih menyukainya dibandingkan rotifers. Keuntungan
lainnya dari penggunaan kopepoda khususnya species tipe bentik seperti Tisbe,
adalah kopepoda non-predasi menjaga dinding tanki pemeliharaan larva ikan tetap
bersih dengan memakan algae dan debris.
Beberapa species kandidat termasuk kelompok calanoida
dan harpacticoida. Calanoida dapat dikenali
dengan mudah melalui antennae pertama yang sangat panjang (16-26 segment), sedangkan
harpacticoida memiliki hanya satu antennae pertama yang pendek (kurang dari 10
segment).
· calanoids: ·
harpacticoids
- Acartia tonsa -
Tisbe holothuriae
- Eurytemora affinis - Tigriopus japonicus
- Calanus finmarchicus & C. Helgolandicus - Tisbenta elongata
- Pseudocalanus elongatus - Schizopera elatensis
- Eurytemora affinis - Tigriopus japonicus
- Calanus finmarchicus & C. Helgolandicus - Tisbenta elongata
- Pseudocalanus elongatus - Schizopera elatensis
Meskipun telah dilaporkan
sukses sebagai pakan pada kultur larva ikan, namun kelayakan ekonomis kultur
kopepoda perlu ditinjau. Biaya
infrastruktur dan tenaga kerja agar dapat memproduksi sejumlah kopepoda hidup
untuk operasi hatchery secara komersial perlu prohibitive.
Siklus hidup
Kopepoda merupakan klas terbesar dari Krustasea
yang membentuk link penting antara fitoplankton dan level trofic lainnya yang
lebih tinggi pada kebanyakan ekosistem perairan. Kebanyakan kopepoda dewasa memiliki panjang
antara 1-5mm. Tubuh kebanyakan kopepoda berbentuk cylindriconical, dengan
bagian anterior yang lebih lebar. The
trunk terdiri dari dua bagian, cephalothorax (kepala yang being fused dengan
segmen pertama dari keenam segmen thoracic) dan abdomen, yang lebih sempit
dibandingkan cephalothorax. Kepala memiliki satu pusat mata naupliar (central
naupliar eye), dan unirameous antennae pertama, yang umumnya sangat panjang.
Kopepoda planktonik terutama merupakan pemakan
suspensi (suspension feeders) pada fitoplankton dan/atau bakteri; partikel
makanan dikumpulkan oleh maxillae kedua. Kopepoda merupakan selectif
filter-feeders. Arus air dibuat oleh appendages melalui maxillae kedua yang
aktif menangkap partikel-partikel makanan.
Kopepoda jantan umumnya lebih kecil dan kurang
melimpah dibandingkan betina. Sewaktu
kopulasi jantan menahan betina dengan antennae pertama, dan melepaskan spermatophore
kedalam bukaan penerima seminal,dimana mereka akan dilekatkan dengan cement
khusus. Telur-telur biasanya dibungkus
oleh suatu ovisac, yang berfungsi sebagai kantung pengeram (brood chamber) dan
tetap melekat pada segmen pertama abdominal betina. Calanoids melepaskan telur
kedalam kolom air secara tunggal. Telur menetas menjadi nauplii dan setelah 5-6
tahap naupliar (moltings), larvae menjadi
copepodites. Tahap dewasa dicapai setelah 5 copepodite moltings, setelah itu molting
is ceased. Perkembangan dapat memakan waktu kurang dari 1 minggu hingga 1
tahun, dan lama waktu hidup suatu kopepoda berkisar dari 6 bulan hingga 1
tahun.
Bila kondisi tidak menguntungkan beberapa species
kopepoda dapat memproduksi telur-telur dormant dengan cangkang yang keras atau
telur-telur istirahat. Cyst ini dapat
bertahan terhadap kekeringan dan juga merupakan alat untuk penyebaran ketika
terbawa ke tempat lain oleh burung atau hewan lainnya. Di bagian utara suatu terdapat tahap diapause
pada perkembangan kopepoda sebagai upaya untuk bertahan hidup terhadap kondisi
lingkungan yang tidak menguntungkan, seperti kebekuan; diapause biasanya
berlangsung antara copepodite tahap II hingga betina dewasa dan dikenali dari
suatu tract alimentary yang kosong, keberadaan sejumlah orange oil globules dalam
jaringan dan suatu pembungkus cyst organic. Habitat utama diapause adalah
sediment, meskipun meskipun suatu bagian kecil individu-individu yang
ber-diapause dapat berada pada fraksi planktonik yang disebut “active
diapause”.
Biometrics
Ukuran kopepoda tergantung dari species maupun
tahap ontogenetic. Berbagai ukuran kopepoda digunakan pada penerapan kultur
larva, memastikan suatu pengambilan yang efisien oleh predator target pada
setiap saat pada tahap pemeliharaan larva.
Harpacticoid Tisbe holothuriae bertumbuh dari nauplius ukuran 55
µm hingga ukuran dewasa yang lebih dari 180 µm, Schizopera elatensis dari
50-500 µm, dan Tisbentra elongata dari 150 hingga lebih dari 750 µm.
Sizes for Eurytemora sp. (Calanoidea) rata-rata berukuran 220 µm
(nauplii), 490 µm (copepodite), dan 790 µm (dewasa).
Kualitas Nutrisi
Kualitas nutrisi kopepoda umumnya diyakini sangat
baik untuk larvae ikan laut, dan dipercaya memiliki kualitas yang lebih tinggi
dibandingkan Artemia. Secara umum kopepoda memiliki kandungan protein
yang tinggi (44-52%) dan profil asam amino yang baik, kecuali methionine dan
histidine (Table 5.4.). Komposisi asam lemak kopepoda bervariasi, karena
merefleksikan komposisi asam lemak diet yang digunakan untuk kultur. Sebagai
contoh, kandungan (n-3)HUFA individu Tisbe dewasa yang diberi pakan Dunaliella
(rendah kandungan (n-3)HUFA) atau algae Rhodomonas (tinggi kandungan (n-3)HUFA) adalah 39 ng, dan
63 ng berturut-turut, dan sebanding dengan 0.8% dan 1.3% berat kering. Pada nauplii, level ini lebih
tinggi; (i.e. sekitar 3.9% dan 3.4%, berturut-turut). Level EPA dan
DHA berturut-turut adalah 6% dan 17% ipada individu dewasa yang diberi pakan Dunaliella,
dan 18% dan 32% pada individu dewasa yan diberi Rhodomonas. Pada nauplii
level EPA, DHA dan (n-3)HUFA culup tinggi, (berturut-turut sekitar 3.5%, 9.0% dan
15%).
|
|
DAFTAR PUSTAKA
Bougis,P.,
1979. Marine plankton ecology. American Elsevier Publishing Company. New York.
Harefa, F.,
2000. Pembudidayaan Artemia untuk
pakan udang dan ikan. Penerbit Penebar
Swadaya, Jakarta. Hal
Isnansetyo,
A. dan Kurniastuty, 1995. Teknik kultur
fitoplankton dan zooplankton; pakan alami untuk pembenihan organisme laut. Penerbit Kanisius, Yogyakarta. Hal

Tidak ada komentar:
Posting Komentar